Event News Renungan

50 Tahun GBI,Pdt.Dr.Melianus F Haurissa Kakiay (Ketua Umum Pelbenus): Jangan Sampai Zaman “Keemasan” GBI Menjadi Luntur

Beritarem.com,-Pada tanggal 6 Oktober 2020, Gereja Bethel Indonesia (GBI) genap berusia 50 tahun pelayanan di tanah air. Memasuki usia setengah abad ini, kualitas pelayanan GBI diharapkan semakin bagus dalam segala hal. “Kita bersyukur GBI dibawa Tuhan di tahun emas dalam pelayanan. Tetapi kita mesti hati-hati jangan sampai sudah masuk tahun emas, kemudian turun kualitasnya dalam pelayanan. Ibarat kalau kita bicara kepemimpinan, sudah semestinya berada di Puncak dan terus naik. Bukannya sebaliknya, naik kemudian turun lagi. Sampai akhirnya ketemu dengan Tuhan di udara. Hal itu yang mesti kita jaga. Karena itu harus ada taktik dan strategi dalam mengelola gereja yang besar ini ke depan. Sehingga makin bertambah usia bukan menjadi anak-anak dan masih mempunyai sifat keduniawian.Tetapi semakin dewasa dan semakin rohani dalam pelayanan. Itulah hal yang penting,” tutur Ketua Umum Pelayanan Bethel Nusantara (Pelbenus), Pdt. Dr. Melianus Ferry Haurissa membuka perbincangan.

Pdt. Dr. Melianus F Haurissa Kakiay (Ketum Pelbenus)

Menurut Pdt. Ferry, jika berbicara seorang pemimpin gereja atau pemimpin umat, maka kualitas pelayanan organisasi maupun kualitas rohaninya tidak boleh turun. “Dan semestinya dari tahun ke tahun pelayanan GBI itu semakin baik dan terus bertambah. Bukan sebaliknya, justru semakin berkurang jemaatnya/anggotanya. Misalnya ada yang hijrah atau pindah organisasi,” tandas Pdt Ferry sembari menjelaskan bahwa Pelbenus bertujuan bersama-sama melayani dan memperhatikan daerah-daerah yang belum terjangkau. Sekaligus menolong atau membantu serta mendukung pelayanan di daerah yang memerlukan perhatian khusus.

Melayani Tuhan Harus Tulus, Jujur, Murni & Memuliakan Nama Tuhan

Mengevaluasi perjalanan kepemimpinan GBI hingga memasuki usia 50 tahun, dari tahun ke tahun sudah bagus dan mengalami kenaikan kualitas pelayanan. “Kepemimpinan dari tahun ke tahun sudah bagus. Hal yang biasa dalam organisasi adalah mesti ada pengkaderan atau peremajaan. Gejolak atau perkembangan yang ada dalam kepemimpinan itu sesuai waktu atau masanya. Tetapi kalau mau dievaluasi dari awal,mulai dari kepemimpinan Om Ho/ Pdt. HL.Senduk itu adalah peletakan dasar-dasar GBI. Baik dalam hal dasar kepemimpinan, dasar organisasi, dasar teologi maupun dasar pelayanan. Sebenarnya itu adalah dasar yang sangat kuat. Artinya beliau selalu bilang kita harus melayani Tuhan dengan tulus dan jujur, serta selalu Tuhan yang harus dimuliakan. Bukan justru memuliakan diri sendiri,”.

Peletakan dasar GBI yang dicetuskan oleh Pdt. HL Senduk kemudian dilanjutkan kepemimpinan Pdt. Soeryadi. Di tangan Pdt. Soeryadi, kepemimpinan GBI dibawa kepada kedewasaaan rohani. “Tema yang diangkat pada zaman Pdt.Soeryadi adalah ‘Menjadi Seperti Yesus’. Itu juga menjadi bagian dari visi GBI, supaya para pejabat dan para jemaat dapat melayani sungguh-sungguh. Nah, kemudian tema itu juga dilanjutkan oleh kepemimpinan Pdt. Soehandoko Wirhaspati. Di tangan Soehandoko ini sebenarnya juga bagus, tetapi sayangnya banyak anggota yang keluar dari GBI. Tetapi yang jelas setiap kepemimpinan itu memegang peranan yang penting. Periode berikutnya dilanjutkan oleh Pdt. Jacob Nahuway. Di era kepemimpinan Jacob Nahuway tidak ada satupun anggota GBI yang keluar. Dan hal-hal yang besar banyak yang telah dikerjakan di era Jacob. Setelah peralihan era Jacob sampai sekarang, cukup banyak pejabat yang keluar bersama jemaat. Bahkan banyak sekali persoalan yang muncul dan kekurangan di dalam ketertiban berteologi. Sehingga muncul banyak simpang siur tentang pandangan ajaran/doktrin teologi. Hal itu yang belakangan banyak terdengar ramai di media sosial,”.

Seorang Pendeta Itu Harus Rela Kehilangan Sesuatu Karena Kristus

Sebenarnya memasuki usia 50 tahun GBI ini, kita mesti melakukan evaluasi dan kembali ke nilai-nilai dasar yang ditinggalkan oleh Pdt. HL Senduk, yakni melayani Tuhan dengan tulus, jujur dan murni. “Sebab saat ini pelayanan tulus, jujur dan murni itu nyaris tidak ada. Karena banyak orang yang menjadikan pelayanan sebagai lahan dimana orang cari kerja dan cari hidup. Bukan sungguh-sungguh panggilan Tuhan dalam melayani,”.

Benarkah di era kecanggihan teknologi ini bisa mempengaruhi seseorang dari panggilan Tuhan dan melupakan nilai-nilai dasar yang diletakkan Pdt. HL Senduk? “Seharusnya ajaran atau doktrin organisasi itu harus tetap dipegang dan dihidupi. Karena kalau ajaran itu dihidupi, maka apapun yang terjadi, termasuk di era kecanggihan teknologi seperti saat ini, nilai-nilai ajaran Om Ho itu harus tetap dipegang kuat. Bisa saja hal itu tergerus karena situasi zaman yang terus berubah. Banyak sekali orang yang berlomba-lomba menjadi pendeta GBI, karena motivasinya yang salah. Mereka berpikir menjadi pendeta GBI itu nanti bisa hidup mewah dan segala macam. Ini adalah pemahaman yang keliru. Melayani Tuhan itu bukan supaya kita mendapatkan sesuatu. Justru menjadi pendeta itu harus rela dan siap kehilangan sesuatu karena Kristus. Nah, Om Ho mengajarkan kepada kita,harus seperti Kristus. Serigala punya liang, burung punya sangkar, tetapi ada manusia tidak punya tempat untuk menaruh kepala. Itu artinya kita siap untuk membayar harga, bukan memperkaya diri untuk menjadi pendeta atau hamba Tuhan. Kesederhanaan itu nomor satu,” .

Agar di era sekarang ini benar-benar memasuki zaman keemasan, maka pemimpin GBI harus kembali meneladani pola pelayanan dasar yang telah diletakkan oleh Om Ho. “Selain ketulusan, kejujuran, kemurnian, dan kesederhanaan, salah satu pelayanan Om Ho yang patut diteladani adalah menjadi Bapa bagi semua jemaat yang dilayani. Karena memang perasaan dari ketiadaan Bapa, itulah yang kerap membuat orang kehilangan kontrol. Figur Bapa itu memiliki karakter mengajar, mendisiplinkan, melatih dan mempersiapkan masa depan. Om Ho kemudian merancang tata gereja GBI yang begitu hebat dan luar biasa. Serta sejumlah buku yang ditulisnya, sebagai pedoman dan dasar bagi jemaat GBI. Karena ajaran GBI itu harus mendarat di semua pejabat maupun jemaat. Nah, selama ini memang kurang mendarat. Karena ajaran GBI yang dituangkan dalam pengakuan iman GBI dan penjabarannya serta yang dipersiapkan oleh departemen teologi kurang disosialisasikan sampai mendarat kepada seluruh pejabat. Itu persoalannya. Sehingga gampang terkena angin ajaran yang baru. Contohnya: Tritunggal. Sebenarnya itu kan tidak perlu repot-repot. Apa yang menjadi pengakuan iman GBI dan sudah dijabarkan serta dituangkan Tritunggal itu sudah cukup,”

Tata gereja GBI yang mendasar tentang ajaran Om Ho harus tetap dipertahankan. Contohnya pembukaan jemaat minimal 12 jemaat itu harus dipertahankan. “Itu adalah jemaat yang diambil dari Murid Yesus, dari dulu sampai sekarang. Karena dengan memiliki 12 jemaat saja sudah repot menggembalakan. Dan hal itu juga sudah terbukti sampai sekarang di masa pandemi Corona. Bagaimana mungkin kita membangun jemaat dengan kumpul banyak orang. Saya tidak bisa  membayangkan banyak pendeta yang menggembalakan ribuan jemaat”.

Di dalam kita mengelola dan menjalankan kepemimpinan ada dua, yakni organisasi dan organisme. “Baik sebagai pemimpin pusat maupun daerah dalam menangani masalah dan lain-lain, kita jangan terlalu berat sebelah. Lebih banyak penekanan kepada organisasi dan meniadakan organisme lainnya. Dua-duanya semestinya berjalan seimbang. Sebab kalau tidak, yang ada adalah kita hanya main pecat-pecat orang. Suruh orang keluar atau pilih. Mau masih ada di GBI atau dipecat. Itu bukan cara penanganan masalah. Kita harus melihat dengan cara Kebapaan dengan sentuhan hati. Manusianyalah yang harus dibimbing, dilayani dan diselesaikan. Bukan soal organisasi. Kalau soal organisasi itu gampang saja. Kita tidak bisa main pecat orang soal ajaran sesatlah. Pertanyaannya sesatnya dari mana? Tetapi orang itu kita bimbingi, didampingi dan diarahkan, Memang harus pelan. Kadang-kadang dia ngeyel, karena itu ajarannya dan pendapatnya. Tidak apa-apa. Kita layani saja pelan-pelan. Karena kita kan sama-sama mau tinggal di Surga. Kita tidak mau yang lain di Surga dan yang lain di neraka,”.

Kalau dalam penanganan masalah, hanya mengedepankan organisatoris minded, maka kita akan melupakan organisme ilahi atau manusianya. Manusia itu memerlukan sentuhan. “Jadi kalau orang datang ngotot dengan argumennya, kita terima saja dan layani saja. Hari itu memang ngotot, kita dengar saja besok lusa kita layani lagi. Sampai dia mengalami perubahan. Tidak bisa main pecat dengan alasan organisasi. Sorga saja tidak main pecat, karena ada firmanNya. Justru Tuhan sabar menunggu setiap orang bertobat dan diselamatkan,”. SM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *