Gagasan News

BERDAMAI DENGAN KATA “POSITIF” DI TENGAH PANDEMI COVID-19 & ERA NEW NORMAL

Oleh: Stevano Margianto

Beritarem.com,- Di tengah pandemi Corona Virus Disease (Covid-19), muncul banyak istilah baru yang saat ini sangat populer di telinga publik. Di antaranya adalah: Lockdown, karantina, isolasi mandiri, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), ODP (Orang Dalam Pengawasan), PDP (Pasien Dalam Pemantauan), OTG (Orang Tanpa Gejala), Positif, Negatif, New Normal, dan sebagainya. Dari sekian kata atau istilah di atas, di era covid-19 ini hanya ada satu kata yang paling ditakuti oleh banyak orang, baik di Indonesia maupun di dunia, yaitu: positif (atau ketika seseorang dinyatakan terkena virus corona). Pantas saja, banyak orang yang menghindari pemeriksaan seperti: Rapid Test maupun Test Swab- PCR, karena kuatir dinyatakan “positif” covid.

Kata “positif” itu menjadi momok yang sangat menakutkan. Banyak orang yang semula sehat atau hanya batuk ringan saja, ketika dinyatakan positif corona, mendadak tubuhnya menjadi drop, imunnya turun dan stress, hingga akhirnya berujung bertambah parah, bahkan banyak yang meninggal akibat covid.               

  Inilah yang disebut dunia menjadi terbalik. Kata “Positif” bermakna negatif dan dibenci oleh banyak orang . Sedangkan kata negatif bermakna positif dan disambut gembira. Ironis memang. Padahal, jika tak ada covid, kita sangat menyukai kata positif, yaitu berpikiran positif maupun bertindak positif. Namun, suka atau tidak suka, mau tidak mau, kita harus segera berdamai dengan kata “positif” corona. Justru, kita harus mampu mengendalikan kata positif corona tersebut dengan cara mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah. Misalnya, menjaga kebersihan, memakai masker, cuci tangan, hand sanitizer, minum vitamin, berjemur, berolahraga, dan sebagainya.

Begitu pula, ketika pemerintah menggaungkan istilah “New Normal” atau tatanan hidup normal baru belakangan ini memicu banyak pendapat di kalangan masyarakat. Jika mengacu pada hitungan para ilmuwan; baik virologis maupun pakar medis, bahwa kemungkinan besar badai Covid-19 tak segera berlalu dalam tahun ini. Dan cara surutnya pun bisa sangat beda dengan jenis pandemi atau epidemi lain yang jamak kita kenal, pemerintah mencanangkan kehidupan normal jenis baru dan berdamai dengan Covid. Tak pelak, publik pun dibuat bingung. Bagaimana mungkin bisa ketika seantero dunia sedang gencar-gencarnya berperang melawan covid dengan biaya ratusan atau bahkan ribuan triliun tiba-tiba harus berdamai. Ini tak masuk akal.

Berdamai” yang dimaksud jelas bukan bermakna angkat bendera putih. Istilah “berdamai” yang digunakan itu tak lain hanya mengikuti mode yang biasa ditebar para penulis ilmiah bidang kesehatan untuk membesarkan hati para pengidap penyakit kronis tertentu,misalnya “Hidup Berdamai dengan Penyakit Kanker”, “Hidup Berdamai dengan Sakit Jantung, dan sebagainya.

Benny Matindas dalam sebuah artikelnya, menuliskan bahwa, mengenai keberadaan Covid, kita tak boleh sembarang memaklumi. Karena meski kita ingin ‘memakluminya’, tapi Covid tidak pernah mau memaklumi kita! Kita ingin hidup berdamai dengan Covid, tapi Covid itu sendiri tidak mengenal perdamaian. Ini mengingatkan kita pada film “Troy”, kisah perang antara Sparta dan Troya, yang klimaksnya adalah pertarungan maut antara Achilles (diperankan actor Brad Pitt) dan Hector sang pangeran yang keras, kejam dan arogan. Hector mengajak berunding untuk berdamai, tapi ditolak Achilles dengan jawaban yang amat dingin: “Tidak ada perundingan antara singa dan manusia!”

Memang tidak mungkin ada perdamaian antara manusia sebagai organisme dan segala faktor pathogen, disease, anti-organisme. Meski dua kutub tersebut memang bersanding dalam sistem fisikal manusia, yang di antaranya ditandai dengan fenomena opoptosis (sebagaimana juga di dalam sistem mental yang menurut Freud: semangat hidup libido yang menyala-nyala selamanya berjalan beriringan dengan tanathos alias kehendak instinktif untuk mati). Apapun, bagaimanapun, hidup normal di tengah kepungan Covid, sedang menjadi tuntutan saat ini. Tapi bagaimana visi yang sebenarnya tentang New Normal itu? Setiap normalitas memiliki sistem norma-nya sendiri, dan suatu sistem norma bersumber dari paradigmanya sendiri.

Sekarang sudah jelas bagi kita, kalau “new normal” hanya berupa berbagai upaya praktis untuk menghindari penularan dan akibat infeksi Covid 19—walau itu mutlak kita butuh sekarang, itu reaktif. Cuma bersifat reaktif, bukan konstruksi dari suatu paradigma. Bukan normalitas sejati. Kita manusia hanya eksis secara reaktif, dan si covid itulah yang aktif. Padahal, sesuai fitrah kita manusia sebagai pemegang mandat kebudayaan dari Allah untuk membudidayakan seisi alam semesta ciptaan-Nya, kita bahkan proaktif.

Selama kita tak berfungsi proaktif, itu bukan sejatinya manusia. Bahkan bukan normalitas yang normal menurut norma-norma hakiki manusia. Bukan normalnya sang IMAGO DEI, fitrah manusia menurut citra Allah adalah manifestasi kehendak Allah: pribadi yang bereksistensi dengan mengutamakan etika positif aktif-proaktif beramal cinta kasih, menu kegemarannya yang paling lezat dan sehat adalah kebenaran ilmiah bersama hikmat marifat Illahi, dari situ bertumbuh-kembang daya kreatif-konstruktif yang meningkatkan produksi dan semakin memperbesar amal proaktif dan sekaligus membereskan sistem konsumsi sehingga tak lagi mendeviasi-mendistorsi sistem tubuh-jiwa-roh kita dan ekosistem biosfir kita.

Akhir kata, di era new normal atau tatanan hidup baru di tengah pandemi corona ini marilah kita tetap menjaga pola hidup sehat dengan tetap mengikuti protokol kesehatan. Tingkatkan Imun dengan cara minum vitamin, berolahraga, cuci tangan dan sebagainya. Selain Imunitas, Keimanan kita juga harus ditingkatkan dengan cara: Berdoa, menyembah serta mendekatkan diri pada Tuhan. Imun dan Iman itu harus berjalan selaras, seiring sejalan di era Covid ini, agar jasmani dan rohani kita semakin sehat. ***

*Penulis adalah Jurnalis Kristiani & Ketua Perkumpulan Wartawan Media Kristiani (PERWAMKI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *