Nasional News Renungan

Bincang-Bincang Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham (Ketum BPH Sinode GBI) Tentang Makna Kenaikan Yesus Di Tengah Pandemi Corona, Akhir Zaman, Gereja Online, Serta Kepedulian GBI Kepada Sesama

JAKARTA,BERITAREM.COM,-Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham, M.Th adalah Ketua Umum Badan Pekerja Harian Sinode Gereja Bethel Indonesia (BPH GBI) periode 2019 s/d 2023. Dalam pelayanannya, Pdt. Rubin juga menjadi Gembala Sidang Gereja Bethel Indonesia di Bandung dan Jakarta,  Ketua Sekolah Tinggi Teologi “Kharisma” Bandung, pembicara radio dan televisi yang ada di Indonesia, di berbagai acara rohani, baik dalam negeri maupun luar negeri (Asia, Australia, Eropa dan Amerika). Sedangkan dalam dunia pendidikan, Pdt. Rubin menyelesaikan pendidikan teologi di Seminari Bethel Petamburan Jakarta (Sarjana dalam bidang PAK/Pendidikan Agama Kristen), Institut Alkitab Tiranus Bandung (Master dalam bidang Konseling), Universitas Kristen Indonesia Jakarta (Master dalam bidang PAK dan STII – Yogyakarta; Doctor of Ministry dalam bidang konsentrasi Pastoral Leadership dan juga Doctor of Theology dalam bidang Misi. Buah pernikahannya dengan Dra. Lenawati Tanudjaja, kini dikaruniai tiga putri, yakni:  Jessica, Jovita dan Joy.

Dalam momen peringatan kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga (21 Mei 2020) beritarem.com mewawancarai Pdt. Rubin Adi melalui jejaring media sosial Whatsapp mengenai makna kenaikan Yesus di tengah pandemi corona, akhir zaman, Gereja Online, Kepedulian GBI kepada sesama, dan berbagai hal tentang Kekristenan di Indonesia. Untuk lebih lengkapnya, mari simak wawancaranya yang disajikan dalam format tanya-jawab berikut ini:

Tanya: Bagaimana pandangan Bapak memaknai Hari Kenaikan Yesus di tengah Pandemi Covid19?

Jawab: Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga menandakan beberapa hal. Yang pertama, bahwa Yesus adalah Tuhan. DIA berasal dari Sorga. DIA sang pemilik Sorga. Dan setelah tugasnya di bumi selesai, DIA kembali ke Sorga. Dan karena DIA adalah Tuhan, kita percaya DIA maha kuasa dan bisa melakukan segala perkara, bahkan bisa menyelamatkan setiap orang yang percaya kepadaNya. Itu nampak dalam kebenaran atau makna kedua bahwa Yesus naik ke Sorga untuk menyediakan tempat bagi kita. Yaitu kita yang percaya DIA adalah Tuhan sang penyelamat supaya kita tidak binasa di neraka, tetapi beroleh hidup yang kekal di Sorga. Selanjutnya Yesus juga mengatakan, DIA akan datang kembali menjadi Raja di atas segala raja. Sehingga kita harus hidup benar untuk menyambut kedatangannya kembali yang waktunya kita tidak pernah tahu.

Peristiwa kenaikan Yesus di tengah pandemi ini mengingatkan kita betapa rapuhnya kita sebagai manusia. Dan kalaupun kita masih bisa hidup, itu hanyalah anugerah Tuhan semata. Karena kita harus lebih sungguh-sungguh takut akan Tuhan dan percaya kepada Kristus yang telah mati, bangkit, naik ke Sorga dan akan datang dan akan datang kembali.

Tanya : Bagaimana  Umat Kristen Seharusnya Menyikapi Pandemi, Misalnya Dalam Hal Ibadah (Baik Ibadah Minggu Maupun Ibadah Kenaikan Yesus) Di Tengah Pandemi?

Jawab:  Kita justru harus meningkatkan ibadah kita kepada Tuhan. Ibadah adalah sikap hormat, penyembahan kepada Tuhan. Selama ini kita mereduksi ibadah itu artinya hadir di dalam gedung gereja. Walaupun ngantuk, ngobrol,  main HP dan tidak concern. Tetapi sekarang, justru harus memiliki ibadah yang sungguh-sungguh. Segala penyerahan hidup  bisa kita lakukan dari dasar hati yang terdalam, sikap hormat, sikap takut akan Tuhan itu harus kita kerjakan. Walaupun ibadahnya tidak bisa langsung di gedung gereja, misalnya secara online, tetapi kita harus rajin mengikuti ibadah tersebut. Jangan kita seperti Thomas yang menjauhkan diri dari pertemuan ibadah. Begitu juga kalau ada kelompok-kelompok kecil, seperti Komsel di gereja-gereja lokal, maka saya mendorong kita untuk mengikutinya, walaupun secara online dengan beberapa orang. Supaya kita bisa saling menguatkan dan menghangatkan kerohanian kita masing-masing dengan firman dan kasih persaudaraan.

Tanya:  Banyak Orang Yang Mengaitkan Pandemi Covid19 Di Seluruh Dunia Dengan Akhir Zaman. Bagaimana Pandangan Bapak Mengenai Hal Ini?

Jawab:  Alkitab berkata bahwa akhir zaman akan datang masa yang sukar, orang akan mencintai dirinya, ada hal- hal yang buruk  di dalam perilaku orang. Termasuk juga bencana alam, gempa bumi, kelaparan, sakit penyakit dan sebagainya. Kita berada dalam kondisi yang tampaknya menuju ke dalam situasi yang makin nyata dinyatakan oleh Alkitab. Tetapi kita tidak bisa  dengan serta merta mengatakan bahwa Pandemi ini adalah tanda akhir zaman, dalam arti tanda Yesus akan segera datang kembali. Kalau orang di luar Kristus menyebutnya ini tanda kiamat. Walaupun bagi kita umat percaya, kiamat itu sesuatu yang akan terjadi kelak mendahului proses-proses panjang, antara lain: munculnya kerajaan seribu tahun dan sebagainya. Jadi tentang akhir zaman atau kedatangan Kristus, Alkitab berkata bahwa tidak ada yang tahu bahwa hal itu akan terjadi dalam kedaulatannya Tuhan. Sehingga kita tidak perlu memprediksi dengan teologi cocoklogi mengenai hal tersebut.  Sepanjang sejarah ada berbagai pandemi yang telah terjadi  di dunia, misalnya: flu spanyol, black death (maut hitam) yang telah merenggut nyawa puluhan bahkan ratusan juta orang yang jauh lebih mengerikan daripada covid-19 ini. Dan seringkali orang menghubungkan  ini dengan akhir zaman, tetapi ternyata tidak terbukti. Bahkan seorang Bapa Gereja yaitu Siprianus pada abad ke-3 Masehi, Dia adalah Uskup di gereja Kartago. Dia berkata bahwa pandemi yang terjadi pada zamannya adalah akhir zaman. Tetapi ternyata apa yang diungkapkan tidak tepat. Kalau dilihat dengan kondisi-kondisi yang menuju pada akhir zaman, bisa dikatakan demikian. Tetapi kalau pandemi saat ini merujuk pada akhir zaman atau kedatangan Tuhan Yesus kedua kali, maka tak seorangpun yang tahu dan kita tidak perlu berspekulasi tentang hal itu.

Tanya:  Apa Saja Kegiatan Yang Telah Dilakukan Oleh GBI Selama Pandemi?

Jawab: Pertama GBI mengadakan kesepakatan untuk mengadakan ibadah di rumah, bukan di gedung gereja. Kemudian kita juga mengadakan ibadah online untuk jemaat- jemaat maupun ibadah offline yang kami sediakan bahannya bagi mereka yang tidak terbiasa atau tidak bisa melakukan ibadah secara online/daring. GBI juga mendorong pelaksanaan program doa dan puasa  sepanjang masa pandemi ini yang diikuti oleh jemaat-jemaatnya. Selain itu kita menghimpun dana dan melakukan bakti social. Pertama memberikan bantuan kepada para medis berupa APD (Alat Pelindung Diri), masker dan peralatan yang lain. Bantuan ini diberikan ke Rumah Sakit, Klinik dan sebagainya di seluruh Indonesia (34 Propinsi) dengan nama GBI Sehati Tanggap Covid-19.  Selain itu, kita juga men-support para hamba Tuhan yang berkekurangan. Sekarang ini kurang lebih 1500 pendeta GBI yang kita support setiap bulan. Hal ini kita rencanakan sampai 3 bulan ke depan. Kita juga mendorong agar jemaat saling bahu membahu, saling membantu, baik untuk jemaat gereja lokalnya yang terus diperhatikan. Dan juga masyarakat yang ada di sekitar, misalnya dengan gerakan memberikan nasi bungkus, pembagian sembako dan hal-hal yang lain. Saya mengundang seluruh jemaat GBI bukan hanya mengangkat tangan memuji Tuhan, tetapi juga mengulurkan tangan membantu sesama. Karena itulah yang dibutuhkan hari ini, sesuai firman Tuhan, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu. Dengan demikian kamu memenuhi hukum Kristus, dan hukum Kristus adalah kasih”.

Tanya: Harapan/ Himbauan Bapak Sebagai Ketua Sinode selama Pandemi Maupun Setelah Pandemi Berakhir?

Jawab: Saya mendorong selama pandemi saat ini tetap mengikuti arahan pemerintah yang ditetapkan Tuhan secara sah mengenai penanganan covid-19 ini. Antara lain: stay at home. Memang hal ini bukanlah sesuatu yang mudah, karena berkaitan dengan ekonomi dan sebagainya. Tetapi kita berharap pihak-pihak untuk bisa menahan diri supaya tidak memperkeruh keadaan yang ada, dengan keinginan mendongkel pemerintahan yang sah dan sebagainya. Karena ini adalah wabah, siapapun yang menjadi pemerintah pasti akan menghadapi masalah yang sulit. Karena ini musuh bersama. Istilahnya, pemerintah diganti pun belum tentu bisa menyelesaikan masalah yang ada. Karena itu kita harus mendoakan pemerintah pusat hingga daerah mendapatkan hikmat Tuhan untuk bisa menyelesaikan hal ini. Kita juga berharap tidak ada orang-orang yang memanfaatkan kesempatan dengan menjadi koruptor atau tikus-tikus yang mencuri bantuan langsung tunai, sembako dan sebagainya. Karena itu adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Lalu setelah pandemi ini berakhir,kelihatannya begini, surut atau tidaknya tergantung dari ketaatan kita. Kalau tidak mau taat, ini malah bisa lebih panjang masa penularan covidnya. Tetapi kalau kita taat, bisa berangsur-angsur memulai kegiatan tentu secara bertahap, misalnya: dibuka sekolah, tetapi jamnya diatur supaya tidak boleh berbarengan jamnya. Jumlah orang di kelas juga dibatasi, ada pengaturan kesehatan sesuai dengan protokol pemerintah dengan disinfektan dan sebagainya. Begitu juga dengan gereja, tidak bisa langsung seperti dulu. Bahkan ada “New Normal” yang muncul dan menjadi pergumulan tersendiri yang harus kita hadapi. Tetapi ingatlah ini, musim silih berganti. Pandemi demi pandemi telah menghantam sejarah peradaban manusia, tetapi Kristus tetap sama, dulu, hari ini sampai seterusnya. Karena itu mari kita tetap setia kepada DIA, miliki iman yang teguh kepada Tuhan, dan mempratekkan sebagai seorang murid yang sejati. Apalagi di hari peringatan kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga yang membuktikan DIA adalah Tuhan dan bisa menyediakan Sorga bagi kita. Dan DIA akan datang kembali sebagai Raja. Yesus juga berjanji mengutus Roh Kudus,  Roh Penolong, Roh Penghibur, Roh Kebenaran yang akan menguatkan kita dalam segala kondisi. (penulis: stevano margianto)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *