Gagasan News

Ciri Orang Yang Bukan Penumpang (Lukas 12:15-)

Gejala orang yang tidak menerima bahwa ia sebagai penduduk asing di bumi, ini adalah menumpuk kekayaan seakan-akan hal ini tidak akan ditinggalkan. Takut kalau keturunannya menjadi orang miskin Dalam Lukas 12:16-21, dikisahkan, mengenai orang kaya yang mengumpulkan kekayaan dirinya, tetapi tidak kaya di hadapan Tuhan. Ia pulang ke tempat abadi dalam kemiskinan. Ia akan menjadi orang miskin di kekekalan. Orang miskin di kekekalan, artinya; adalah orang yang ditinggalkan oleh Tuhan. Ditinggalkan Tuhan sebab selama di dunia ini ia tidak mengiring Tuhan dengan benar.

Ps. Dr. Berthy L Momor

 Orang yang mengiring Tuhan yang ikut berpikir apa yang dipikirkan oleh Tuhan. Ia bergumul apa yang digumulkan Tuhan dan yang menjadi bebanNya. Tuhan Yesus menyatakan bahwa mereka yang tetap tinggal bersama-sama dengan Dia dalam segala pencobaan yang Dia alami, akan menemukan kebersamaan dengan Dia dalam kerajaanNya (Lukas 22: 28-29).

Orang yang menyertai Tuhan Yesus adalah mereka yang membela kepentingannya tanpa batas. Tuhan Yesus berkata kepada orang kaya yang celaka, “apa yang telah engkau sediakan, untuk siapakah itu nanti  Barangkali untuk anak cucu nanti. Kita lupa banyak diantara kita yang dahulu tidak memiliki apa-apa tetapi juga dipelihara Tuhan. Mengapa kita tidak mempercayai Tuhan akan memelihara anak cucu kita. Firman Tuhan mengatakan bahwa keturunan orang benar tidak akan menjadi peminta-minta. Tidak sedikit anak-cucu yang memperoleh apa yang sebenarnya bukan bagiannya.

Mereka bisa menjadi orang-orang yang tidak diberkati, apa yang mereka terima sebenarnya bagian untuk Tuhan tetapi digunakan untuk kepentingan diri sendiri. Orang tua yang bodoh tidak memahami kebenaran ini mengajarkan kepada anak-anak seakan-akan kekayaan itu segalanya (Lukas 12:15). Hal ini mempersiapkan anak-anak tanpa kebenaran kepada Tuhan. Mereka menjadi materialistis yang pada saatnya tidak akan pernah bertobat dengan benar. Kalau orang tua mewariskan kebenaran, maka hal itu mewariskan pengenalan akan Tuhan yang membuat mereka terpelihara, bukan semenatara di dunia tetapi juga di kekekalan. Mereka juga akan bertemu dengan orang tua di Kerajaan Bapa bersama keluarga besar yang dibangun di bumi.

Orang yang menyadari bahwa ia menumpang dan bersikap sebagai seorang penumpang di dunia, lebih memiliki kemungkinan yang besar memiliki dunia baru bersama dengan sang Maha Raja. Tetapi kalau seseorang tidak merasa bahwa ia menumpang, ia akan kehilangan kesempatan memiliki dunia lain yang lebih baik (Matius 10:39); (Mat. 16:25-26).

Nyawa dalam Matius 10:39, menunjuk kesenangan-kesenangan jiwa yang dipengaruhi oleh filosofi hidup manusia pada umumnya. Semua manusia telah diracuni oleh filosofi hidup yang mengiringi menuju kegelapan abadi. Kesempatan ini, sama dengan tidak menghargai Tuhan yang memberi kesempatan hidup. Kemalasan membangun kemiskinan yang tidak akan memiliki hari esok di kekekalan. Anak-anak muda yang tidak mau kehilangan masa muda seperti yang dimiliki dan dinikmati anak-anak muda lain, akhirnya membangun kehancuran hari depannya.

Demikian juga orang-orang yang tidak mau kehilangan nyawanya atau masa hidup di dunia, hari ini tetapi kehilangan hari esok di keabadian. Kehilangan nyawa berarti seorang yang menyadari dan memperlakukan bahwa hidup di dunia bukanlah untuk menetap. Tujuh puluh (70 th) sampai Delapan puluh tahun (80 tahun) Sebagian besar manusia juga orang-orang Kristen bersikap sebagai orang yang seolah-olah akan menetap. Kalau irama hidup ini tidak segera diubah, maka ia tidak akan pernah bisa berubah. Karena tidak bisa berubah lagi, maka Ia akan berpikir bahwa irama hidup wajar yang ditolerir oleh Tuhan. Dalam hatinya akan berkata,; “Hidup memang begini”. Orang-orang seperti ini tidak bisa mengerti kebenaran. Begitu hebatnya Iblis menipu mereka. Orang yang rela kehilangan nyawanya hari ini, akan beroleh nyawanya di dunia yang benar bersama Sang Maha Raja.  Tuhan Yesus Memberkati. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *