News Testimoni

Kesaksian Pdt.Dr. Julius Parapat: Anak Tentara Yang Bercita-Cita Jadi Pendeta!

Jakarta,Beritarem.com,- Julius Parapat di Lahirkan di Pasuruan, 30 Juli 1975. Ia adalah anak bungsu dari 4 bersaudara. Meski sang Ayah adalah seorang tentara, tetapi Julius kecil, tak mau mengikuti jejaknya. Uniknya, Ia justru bercita-cita menjadi seorang Pendeta. “Sejak kecil saya ingin jadi Pendeta. Padahal papa saya seorang tentara. Papa saya itu seorang figur ayah yang menjadi teladan, kebanggaan, baik di dalam keluarga maupun bangsa. Beliau adalah seorang TNI KOSTRAD, bernama Letda Beltazar Parapat yang bertugas di Pasuruan Jawa Timur. Tukas Julius mengisahkan, bahwa Sang Ayah ketika bertugas di Pasuruan, di Yon Zipur KOSTRAD, berjumpa dengan seorang wanita bernama Sri Rahayu (Sang Mama) yang dulunya adalah non Kristen. Karena kegigihan dan rencana Allah boleh mengenal Yesus yang akhirnya menikah dan diberkati di Gereja. Nah, ketika Papa pindah tugas ke Jakarta, kami sekeluarga tinggal di Asrama ABRI Siliwangi Lapangan Banteng (sekarang Gedung Keuangan Danapala),” kenang Julius memulai perbincangan.


Selepas SMA, Julius merasakan kesedihan mendalam lantaran sang Ayah tercinta dipanggil Tuhan di usia yang masih terbilang muda, 52 tahun. Julius kehilangan sosok Ayah yang menjadi teladan, pengayom dan kebanggaan keluarga. “Ketika tamat SMA, saya shock sekali, Ayah mendadak dipanggil Tuhan dalam usia 52 tahun akibat serangan jantung. Sehingga waktu itu, cita-cita kuliah untuk menjadi Pendeta seolah-olah kandas. Disitulah awal mula, saya “Kehilangan harapan”. Karena sempat berpikir,. Kalau orang tua dipanggil Tuhan tidak ada yang bisa diandalkan. Disaat inilah tangan Tuhan mengambil alih, bagaikan tanah liat ditangan tukang periuk, Tuhan tidak kekurangan cara untuk membuat segala sesuatunya indah.

Bersama istri & anak-anak

Gara-gara kehilangan figur Ayah itulah sempat membuat dirinya melupakan cita-citanya untuk menjadi seorang Pendeta. Namun, Tuhan menjamahnya pada tahun 1990, ketika Julius diajak oleh Kakaknya yang terlebih dahulu aktif di “PD TALENTA” binaan Pdt. Junaedi Salat. Melalui beliaulah,. Ia dibimbing, belajar melayani dan didaftarkan di SOM Mawar Saron Angkatan 22. “Mulai saat itulah saya kembali menemukan sosok pengganti Ayah yang telah dipanggil oleh Tuhan. Saya merasa telah diberikan Tuhan seperti orangtua sendiri untuk mengajarkan tentang Tuhan dan hal-hal rohani. Bukan hanya itu Ayah Rohani yang Tuhan kasih, tetapi Saya juga merasakan lebih dari Ayah (Bapa) di Surga yang memberikan segalanya. Saya teringat firman Tuhan, Tetapi seperti tertulis: “apa yang tidak pernah dilihat oleh mata …… disediakan Allah mereka yang mengasihi Dia” (1 Korintus 2:9),” papar Julius.


Bagi Julius, mujizat terbesar yang pernah dialami adalah ketika kedua orang tuanya hadir dan mengalami lahir baru di KKR Reinhard Bonke Kasih Melanda Indonesia. Disitulah mereka berdoa dan menerima Yesus sebagai Juru Selamat. “Puji Tuhan, keluarga kami menjadi rohani dan diselamatkan. Karena satu orang bertobat seisi rumah atau keluarga diselamatkan. Disinilah kami menyadari bahwa harta yang tidak ternilai harganya adalah kepergian orangtua meninggalkan “WARISAN IMAN” buat anak cucunya yang tentunya tidak bisa ternilai uang atau apapun,” ungkapnya.
Setelah bertobat tahun 1990, Julius menyerahkan diri sepenuhnya pada panggilan Tuhan. Kemudian tahun 1995, Ia memutuskan untuk melanjutkan ke Pendidikan Tinggi jurusan teologi. ” Puji Tuhan, Pendidikan terakhir saya S3 Teologi dengan gelar D.Th di STAKAM Manado (2011-2013). Sedangkan S1 (1995-1999) dan S2 (2008-2010), saya selesaikan di STT Apollos Jakarta,” jelas Ayah dari 2 putri-putra yakni: Zephaniah Maretta Adrianti Parapat (19 th), dan Melvern Adrian Parapat (16 th).
Kesuksesan seorang suami, tidak lepas dari dukungan dan doa seorang istri, yakni Yulistina Rumekti, Apt., S Si yang dinikahinya sejak tahun 2000. Bagi Julius, peran sang istri sangat besar dalam mendukung karier dan pelayanannya sebagai seorang Pendeta. “Saya yakin apa yang telah saya raih saat ini berkat dukungan dan peran istri yang terus menjadi tiang doa bagi keluarga. Jadi, “Kehilangan harapan” bukan berarti selamanya melainkan seperti tanah liat yang jatuh ditukang priok akhirnya jadi sempurna dan pulih kembali. Adapun bonus atau kepercayaan yang Tuhan berikan saat ini adalah sebagai penginjil, Pengkhotbah dan Dosen teologi mengajar di S1-S3 di beberapa STT dan menjabat sebagai Ketua sekolah STT Anugerah Sinagoge Medan sejak 3 tahun terakhir,” paparnya bersemangat.


Apakah kesan dan pesan Anda dalam menghadapi Covid-19 bagi pembaca? “God Is Greater than any problem we have (Tuhan itu lebih besar dari masalah yang kita miliki). Dunia belum berakhir. Covid-19 bukan akhir segala-galanya. Tetap semangat kalau segala sesuatu ada masanya. Maka masa-masa sulit pandemi ini juga pasti akan kita lewati bersama dengan Tuhan. Pesan saya, jangan putus asa. jangan seperti tidak punya harapan, jangan mati sebelum tiba hari kematianmu, dunia belum berakhir. Tetap jaga protokol kesehatan dan membangun iman dalam pandemi covid-19 ini. Karena Iman mu menyelamatkan engkau dalam wabah ini. Tuhan Yesus Memberkati,” pungkasnya. (Yanti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *