News

Memaknai Paskah Di Tengah Wabah Covid19, Dr. John N Palinggi (Ketum BISMA): Fokus Kepada Tuhan, Jangan Takut & Kuatir!

Dr. John N Palinggi (Ketum BISMA) ketika ditemui di kantornya, Minggu, 29 Maret 2020

Jakarta,Beritarem.com,- Paskah bagi umat Kristiani di seluruh penjuru dunia merupakan momentum yang sangat sakral. Namun, di tengah wabah covid19 yang belakangan ini menjadi momok  sangat menakutkan, tentu umat Kristiani harus mentaati himbauan pemerintah yakni: memutus mata rantai penyebaran virus dengan cara tidak melakukan kegiatan yang diikuti banyak orang, termasuk kegiatan ibadah.

 Menyoroti kegiatan Paskah di tengah pandemi corona, Ketua Umum Badan Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA), Dr. John N Palinggi, MBA, mengungkapkan, bahwa, kita tidak perlu takut dan kuatir. Karena kalau kita takut dan kuatir, itu merupakan racun kehidupan manusia yang tidak mampu menolong diri sendiri apalagi orang lain. “Dalam Alkitab itu tertulis 365 kali jangan takut dan kuatir.Hal itu menjelaskan bahwa, kita  tidak boleh takut dan kuatir sepanjang tahun. Seharusnya yang kita takut hanya kepada Tuhan, agar tidak berbuat dosa,” tukas Dr. John Palinggi yang sangat rendah hati.

Menurut John, Paskah itu dimulai dari peristiwa penyaliban, kematian, dan kebangkitan. Jika dimaknai dengan situasi saat ini dunia sedang dilanda bencana covid19, sebagai penyaliban dan kematian. Tapi yakinkah kita, bahwa nanti ada kebangkitan? “Sebab saya percaya benar, bahwa  Covid-19 ini, memang diperkenankan Tuhan ke bumi ini. Karena terlalu banyak penumpahan darah, terlalu banyak pendosa. Seringkali kita pergi beribadah, tetapi tidak menjalankan firman Tuhan. Kuncinya, ketika kita berdoa sungguh-sungguh, pasti Tuhan  bisa hentikan  wabah virus Corona,” papar John bersemangat.

Lanjut John, ajaran Kristiani itu jelas mengajarkan jangan takut dan kuatir. “Berulang-ulang saya katakan, kalau diajarkan seperti itu. Jika kita sebagai umat orang Kristiani merasa takut, saya kira hidupnya tidak selaras dengan harapan Tuhan. Bolehlah dikualifikasikan sebagai orang pendosa. Orang pendosa tidak bisa menciptakan masa depan, tetapi membuang masa depan, bahkan menghancurkan hidupnya sendiri. Saya bisa bertahan sampai saat ini, karena saya tidak pernah takut dalam kebenaran. Saya tidak pernah kuatir dalam kebenaran. Adakah ketakutan terhadap corona? Sebagai manusia, saya selalu berpikir dan selalu melihat Tuhan. Kita harus fokus melihat Tuhan, jangan melihat corona. Oleh karenanya, saya menyendiri berdoa,  apa yang Tuhan mau nyatakan melalui corona. Banyak teman bilang berhati-hati, makan vitamin, dan sebagainya. Saya katakan tidak. Saya beli ‘vitamin’, roh saya perkuat, jadi vitamin itu memperkuat rohani saya, batin saya. Sebab corona tidak bisa dilawan dengan fisik, maupun otak kita sebagai profesor doktor. Melainkan harus dilawan dengan batin kita, roh yang diberikan Tuhan, dan roh itu adalah harus dilakukan dengan ketulusan dan keikhlasan menerima apa yang diperkenankan Tuhan. Kalau kita masih kuatir, maka hilanglah keyakinanmu kepada Tuhan. Fokus saja, fokus kepada Tuhan. Hanya DIAlah perlindungan dan perlindungan kita,” tutur John Palinggi ketika memberikan pesan dan nasehat di hadapan wartawan di ruang kerjanya, Graha Mandiri, Menteng (Minggu,29 Maret 2020).

Masih kata John Palinggi, dampak corona memang luar biasa. Saat ini semua rumah ibadah, tembok ratapan, Ka’bah, Mekkah, Madina, Vatikan, dan Gereja tutup, atas instruksi pemerintah agar tidak melakukan kegiatan dengan kerumunan banyak orang.  “Nah apa sekarang yang berfungsi? Diri kita secara pribadi, saatnya merenungkan, bahwa sesungguhnya hubungan saya dengan Tuhan secara berkelompok, kok tidak pernah berarti. Ini saatnya masuk ke bilik tersembunyi. Nyatakan apa yang ada dalam dirimu kepada Tuhan,” urainya. SM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *