Mancanegara News

Membedah Buku “Palestina Milik Siapa” Karya Gary M Burge, Guru Besar Perjanjian Baru (Wheaton College & Graduate School) Amerika Serikat

Beritarem.com,-Israel memiliki pesona religius tersendiri di kalangan orang Kristiani. Bukan hanya di Indonesia melainkan seluruh penjuru dunia. Setiap tahun agen-agen travel yang menangani wisata rohani ke Israel sibuk mengurusi para turis mancanegara yang ingin berkunjung ke Israel, yaitu: “tanah perjanjian”. Yang tak kalah menarik adalah kesan-kesan rohani yang dibawa pulang para peziarah tersebut–yang dalam beberapa tampilan memperkuat fanatisme Israel sebagai umat pilihan Allah sebagaimana disebutkan dalam Alkitab.

Israel modern serta-merta dikaitkan langsung dengan identitas Israel kuno pada zaman Alkitabiah. Wisata ke Israel seolah membangkitkan kembali memori-memori pengajaran guru sekolah minggu tentang peristiwa-peristiwa dalam Alkitab. Kita seakan dibius untuk melompati suatu rentang waktu dan pergolakan peristiwa yang membentang panjang dalam sejarah peradaban manusia. Nyaris tak ada orang yang bertanya: bagaimana sampai Israel modern bisa kembali ada di tanah Palestina?

Gary M Burge penulis buku berjudul “Palestina Milik Siapa” mulai dengan pertanyaan itu. Tetapi tidak seperti buku-buku lain yang mengupas isu Israel/Palestina, buku ini didorong oleh kegelisahan dan dilema seorang Kristen Injili terhadap eksistensi negara Israel modern. Bagi Gary Burge, persoalan Israel/Palestina tidak hanya menyentak kesadaran politik, historis, dan kultural, tetapi juga kesadaran teologis sebagai seorang Kristen.

Dalam bukunya setebal 210 halaman itu, Burge merasa sulit untuk mencermati dan memahami persoalan Israel/Palestina secara objektif, karena penamaan “Israel” telah melekat dalam keyakinan Kristiani yang bertumbuh dalam proses pembacaan dan pemahaman Alkitab sejak ia kecil. Namun, pada sisi lain, sebagai seorang manusia, ia juga tidak mampu menutup mata dan keprihatinan terhadap penderitaan hidup rakyat Palestina semenjak berdirinya negara Israel modern pada 1948 (hlm. xv).

Salah satu persoalan yang menggelisahkannya ialah kenyataan makin bertambahnya jumlah pengungsi Palestina yang mendiami tempat-tempat pengungsian yang tak manusiawi. Menurut PBB, saat ini terdapat lebih dari 3,6 juta pengungsi Palestina yang tersebar di seluruh wilayah Tepi Barat, Gaza, dan negara-negara di sekitar Israel. Ada juga pengungsi yang bermigrasi ke negara-negara Barat seperti Australia dan Amerika Serikat. Sementara itu, dari 807 desa Palestina yang terdaftar pada 1945, hanya tersisa 433 desa yang masih berdiri pada 1967. Singkatnya, 45 persen desa Palestina telah dikosongkan dan dihancurkan demi terciptanya wilayah negara Israel. Karena Israel membutuhkan tanah, salah satu tujuannya adalah mengosongkan tanah tersebut dari penduduk Palestina (hlm. 53).

Meskipun dilengkapi dengan pemaparan sejarah yang lengkap dan eksplorasi data yang ketat mengenai fluktuasi konflik Israel dan Palestina, buku ini sebenarnya tidak ditulis untuk sejarawan akademis atau teolog terdidik, demikian pengakuan Burge. Malah, buku ini adalah buku praktis yang ditulis bagi orang Kristen kebanyakan, yang bergumul di tingkat paling pribadi dengan dilema-dilema Israel-Palestina dalam kerangka teologi yang konservatif.

Burge menyadari bahwa sudah banyak karya tulis teknis yang rumit memberikan perhatian yang sangat besar pada masalah Israel/Palestina. Tujuan buku ini adalah menyaring karya-karya itu, menguraikan berbagai argumentasi utamanya, dan menyerapnya sebagai orang Kristen yang memiliki komitmen sepenuh hati pada “tanah suci” ini. Melalui buku ini Burge berharap dapat menyampaikan dua poin sederhana: [1] Jika Israel mengklaim tanah suci menurut janji alkitabiah, Israel harus memenuhi standar kebenaran nasional secara alkitabiah; [2] orang Kristen harus memandang lebih dekat pada komitmennya sendiri.

Buku patut dibaca oleh semua orang, bukan karena isinya menyenangkan semua orang. Sebaliknya, buku ini layak dibaca dan dihayati oleh semua orang karena isinya justru menggelisahkan semua orang untuk mencari jawab tentang masalah Israel-Palestina. Suatu situasi problematik yang langgeng karena bertahan dalam ketegangan antara iman dan realitas. Dengan membaca buku ini, setidaknya bagi Anda yang rindu berwisata rohani ke Israel, Anda makin paham bahwa wisata rohani Anda tidak akan menyenangkan dan menghidupkan kalau Anda tidak menguak sisi lain gemerlap Yerusalem dan Israel modern dari sisi kemanusiaan rakyat Palestina yang terpuruk dalam lumpur derita berkepanjangan, nyaris tanpa keberpihakan. Anda di mana?

Banyak umat Islam menilai bahwa pendudukan tanah Palestina oleh Israel adalah masalah antara Islam dan Yahudi. Orang Yahudi yang direpresentasikan dengan negara Israel telah merampas dan menindas umat Islam yang telah ribuan tahun menetap di Palestina. Dengan asumsi itu, banyak umat Islam yang berpikir bahwa membantu dan membela Palestina adalah jihad. Sebab, Palestina adalah tanah umat Islam karena di sana ada Baitul Maqdis, salah satu tempat suci umat Islam.

Asumsi seperti itu sudah menjadi opini publik di kalangan umat Islam. Dampaknya, tidak hanya Israel yang dimusuhi para pejuang militan Islam, tapi juga negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat (AS) dan Inggris, yang selama ini dianggap membantu Israel. Asumsi-asumsi seperti itulah yang hendak diluruskan penulis buku “Whose Land, Whose Promise yang diterjemahkan Palestina Milik Siapa?” karya Gary M Burge, guru besar Perjanjian Baru di Wheaton College & Graduate School, AS, itu.

Menurut Burge, klaim Israel terhadap tanah Palestina sebagai tanah miliknya, seperti tertulis dalam kitab Taurat, sebetulnya bisa pula dilakukan umat Kristen. Karena Yesus dan para pengikut utama agama Kristen paling awal juga berasal dari Palestina. Mereka juga mempunyai tanah dan tanah itu adalah warisan mereka untuk umat Kristen.

Itulah sebabnya, salah satu kerinduan utama Paus Yohanes Paulus II adalah mencium tanah Palestina, yang di dalamnya ada tempat bernama Bethlehem, tempat kelahiran Yesus. Dari sedikit gambaran bagaimana sebetulnya kerinduan orang Kristen terhadap tanah Palestina menunjukkan perampasan tanah Palestina oleh Israel sebetulnya tidak hanya menyakitkan umat Islam tapi juga umat Kristen.

Bagi umat Kristen, Yerusalem dengan Bethlehemnya adalah seperti Mekkah-nya umat Muslim, karena itu, mereka amat sakit ketika Israel mengklaim wilayah suci tersebut sebagai milik bangsa Yahudi. Guru besar, Gary Burge yang amat memahami kitab Injil menulis, konflik Israel-Palestina sungguh membingungkan umat Kristiani.

Bagaimana mereka bersikap dalam konflik tersebut?“Bagaimana saya bisa merelakan kelahiran negara Israel jika di saat bersamaan saya juga menangisi penderitaan orang Arab Kristen yang merupakan saudara seiman saya?”begitu Burge balik bertanya.

Membaca buku ini, kita diajak Burge untuk menelusuri sejarah Palestina dan meneliti teks-teks kitab suci Injil dan Taurat. Tanah Palestina adalah milik tiga agama, Yahudi, Kristen, dan Islam, dan di tanah itu telah berkembang suku-suku dari berbagai macam bangsa (bab 5). SM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *