Gagasan News

MENGELOLA MEMORI TRAUMATIS

Beritarem.com,-Masa lalu tidak bisa dirubah sekalipun seseorang meneteskan air mata darah, dan untuk  apa yang dipermasalahkan. Sebab masa lalu adalah sebuah ‘sejarah’ yang tidak bisa dilupakan begitu saja. “Let by gone be by gone”.  Yang sudah, sudahlah. Lebih baik membayangkan masa depan yang penuh harapan. Daripada larut dalam kesedihan yang tidak berkesudahan karena terjerat bayangan masa lalu yang tidak menguntungkan. Memori ibarat sebuah film dokumenter yang merekam semua peristiwa masa lalu. Ada peristiwa yang menyenangkan;menyedihkan;menguatkan;melemahkan; memalukan; dan membanggakan. Semua tersimpan rapi dalam otak dan sewaktu-waktu gambaran itu muncul kembali baik dikehendaki ataupun tidak. Ada memori yang bisa bertahan lama, tetapi ada juga yang hilang dari ingatan dalam waktu singkat.

Ps. Dr. Berthy L Momor

Yang tersimpan lama dan tidak bisa dilupakan biasanya memori yang mengandung kesan penting, misalnya peristiwa perkawinan. Atau peristiwa bertemu mantan pacar, kelahiran putra pertama, dan lain sebagainya. Memori bersifat “asosiatif”, artinya ada sesuatu stimuli yang memicunya hadir kembali.

Semua orang pernah mengalami peristiwa-peristiwa masa lalu. Peristiwa itu masih sering terbayang  terutama kalau ada hal-hal yang terasosiasi dengan kejadian itu, saat melihat notebook, setia teringat peristiwa itu, timbul kembali emosi negatif, seperti; sedih, marah, benci dan sebagainya. Pengalaman itu pernah menjadi trauma yang mengganggu. Tetapi itu dahulu. Sekarang tidak lagi. Kita bisa mengendalikan ekses dari perasaan saat memori yang tidak menyenangkan itu muncul kembali. Seringkali seseorang dikuasai oleh perasaan negatif yang ditimbulkan oleh bayangan peristiwa negatif yang ditimbulkan oleh bayangan peristiwa masa lalu yang tidak menyenangkan. Ketika memori itu datang kembali bersama dengan munculnya gambaran traumatis itu. Misalnya, marah; dendam; sedih; benci; malu; depresi dan sebagainya. Hal itu terus berulang sehingga  menjadi otomatis. Peristiwanya sendiri mungkin sudah terjadi beberapa tahun silam. Tetapi perasaan yang timbul bila tidak dikendalikan bisa merusak hingga hari ini, dan menghancurkan masa depan. Melupakan trauma kejadian masa lalu memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan ada orang lebih suka mengenang atau mengungkit-ungkit pengalaman masa lalunya daripada melupakannya.

Seorang kakek menceritakan kepada sang cucunya tentang pengalaman masa mudanya. Ada juga sang istri suka mengungkit-ungkit peristiwa selingkuh sang suami. Sang purnawirawan Jenderal mengalami “power syndrome”, membayangkan dirinya masih berkuasa. Dendam adalah gejala ketidakmampuan seseorang melupakan kejadian masa lalu yang tidak menyenangkan. Memori masa lalu seringkali datang karena diundang maupun tanpa diundang. Itulah yang menjadi persoalan. Ketika memori itu datang ia tidak hanya menghadirkan gambar bisu, tetapi ia membawa serta emosi seperti setting ketika pertama kali suatu peristiwa terjadi. Bila yang datang adalah memori traumatis ia membawa emosi negatif. Tetapi bila yang datang adalah memori menyenangkan, ia membangkitkan rasa senang dengan emosi positif yang dapat menjelma menjadi motivasi yang diperlukan untuk mengejar motif-motif sukses.

Persoalan sekarang bagaimana seseorang bisa mengatasi trauma masa lalunya? Menghapus memori mungkin tidak bisa seperti seseorang menghapus rekaman dalam pita kaset atau file pada komputer.  Yang bisa dilakukan hanyalah meredam atau mengendalikan ekses negatifnya saat gambaran mental masa lalu itu muncul kembali. Banyak cara dapat dilakukan. Saat memori itu muncul, ingatlah tonggak sukses kita. Ingatlah bahwa trauma masa lalu itu akan merusak, melemahkan dan menggagalkan rencana sukses kita di masa depan. Lakukan monolog batin penyangkalan dan penolakan atas emosi yang muncul. Alihkan ingatan kita kepada hal-hal yang positif. Lakukanlah kegiatan fisik yaitu berolahraga; membaca;menulis; mungkin juga berkebun (memelihara/bunga). Bila trauma itu menjadi hambatan besar karena seringkali muncul dan kita tidak bisa mengatasinya. Ada satu cara pelepasan trauma, yaitu melalui cara konseling dan pertobatan kembali. Ingat bahwa trauma ada sebuah dosa masa lalu yang harus dihilangkan. Jangan lupa berdoalah memohon pertolongan Tuhan. “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil,” (Luk. 1:37). Sukses ada pada imajinasi bukan pada memori kenangan masa lalu. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *