Event News

Opini Pdm. Dr.Naslindo Sirait: GBI Menjadi Gereja Yang Bersatu

(Tulisan ini menanggapi tulisan Pdt.Dr.Melianus F Haurissa Kakiyai dengan judul : Jangan Sampai Zaman “Keemasan “GBI Menjadi Luntur, yang ditulis di Beritarem.com)

Beritarem.com,-Untuk mengetahui dan mengevaluasi tingkat pencapaian kinerja suatu organisasi yang dihubungkan terhadap visi suatu organisasi, terutama dari sisi kualitas pelayanan tidak hal yang mudah, kita perlu memilih indikator yang tepat sebagai alat ukur, karena bisa jadi penilaian menjadi sangat subyektif tergantung cara pandang orang melihat,dan tergantung pada kepentingan orang. Bicara kepentingan dipastikan tidak akan bebas nilai, sementara saat kita memberikan sebuah evaluasi, evaluator harus benar-benar bebas nilai, atau independen. Karena cara menilai akan sangat tergantung kepada kepentingan. Karena itulah ukuran-ukuran kinerja sebuah organisasi yang obyektif  banyak memang diukur secara kuantitatif, yang bisa dilihat dan mudah dimengerti semua orang, misalnya bertambahnya jumlah pendeta, bertambahnya jumlah gereja, bertambahnya jumlah jemaat.

Untuk mengetahui sejauh mana kinerja organisasi dapat diukur hanya dan jika diawal penyusunan visi, misi, tujuan dan sasaran sudah terlebih dahulu dituangkan dalam strategic planning, dengan menetapkan indikator-indikator dari masing-masing tujuan dan sasaran yang dapat dikuantifikasi.  Inilah yang akan dibandingkan dari waktu-kewaktu untuk melihat sejauh mana target dapat dicapai, sehingga dapat disimpulkan bahwa satu organisasi dikatakan berhasil atau gagal. Namun demikian mengukur kualitas kinerja sebuah organisasi bukan tidak bisa dilakukan, Kembali kepada indikator apa yang akan digunakan untuk mengindikasikan tujuan ataupun sasaran kualitas yang ingin dicapai. Misalnya bicara aspek persatuan, maka mungkin indikatornya, berkurangnya atau tidak adanya konflik di dalam jemaat, atau konflik antar pejabat. Untuk aspek moralitas pejabat, indikatornya, berkurangnya atau tidak adanya pejabat yang diberikan disiplin ringan, sedang atau berat, atau untuk melihat sejauh mana pelayanan telah berbuah dan memiliki kepedulian sosial indikatornya misalnya meningkatnya jumlah bantuan sosial yang disalurkan kepada korban bencana, atau meningkatnya jumlah anak jemaat miskin yang menerima bantuan beasiswa. Karena itulah, perlu sekali di awal periodisasi suatu pelayanan, tujuan dan sasaran ditentukan indikatornya sehingga dapat dilakukan evaluasi yang komprehensif untuk dijadikan tindakan korektif bagi kemajuan organisasi.

Dengan memahami siklus manajemen strategis tersebut kita akan terhindar dari sifat mengakimi, apalagi sampai membanding-bandingkan antar satu periode kepemimpinan dengan periode kepemimpinan lainnya, karena setiap zaman akan menghasilkan persoalan yang berbeda, dan setiap persoalan juga sudah pasti akan didekati dengan pola-pola yang berbeda.

Bagi pengurus atau pemimpin, yang bekerja dan memimpin roda organisasi memang bukan perkara yang mudah, karena banyaknya variabel yang saling berhubungan dan banyaknya kepentingan yang harus dikelola. Dibutuhkan partisipasi, kesadaran dari semua anggota, tetapi bagi pemimpin selain diperlukan kebijaksanaan juga diperlukan sikap yang tidak boleh ragu-ragu, memiliki prinsip yang kuat dan teguh, teguh kepada tujuan dan teguh kepada aturan main, Pemimpin bukan bertugas untuk menyenangkan semua pihak apalagi sampai mengorbankan prinsip-prinsip organisasi dan kebenaran, tetapi bagaimana membawa organisasi berjalan, bertahan dan mencapai kemajuan-kemajuan yang sudah disepakati dan ditetapkan. Karena itu instrumen yang utama yang harus dipegang oleh pemimpin adalah menegakkan aturan main organisasi yang sudah menjadi konsensus, wajib bagi anggota dan pengurus menaati dan menjalankan sesuai dengan aturan main tersebut, sehingga keadilan, fairness, jauh dari kesewenang-wenangan akan dapat diwujudkan. Karena itu aturan harus benar-benar ditegakkan. misalnya ada pelanggaran ajaran. Maka kalau menurut aturan yang bersangkutan harus diberikan ruang untuk menjelaskan pengajarannya, dan ternyata setelah itu ditempuh bahwa penjelasan tidak bisa diterima oleh organisasi, maka kepada yang bersangkutan memang harus memilih apakah tetap mengakui pengajaran di dalam organisasi atau tetap pada pendirian yang bersangkutan, apabila yang bersangkutan memilih kepada pendiriannya, maka konsekuensinya yang bersangkutan harus mengundurkan diri atau diberhentikan dari organisasi. Tidak ada yang salah dalam hal yang demikian. Selama proses sudah dijalankan sesuai dengan aturan dan peraturan, maka keputusan akhir harus diberikan. Itulah penegakan aturan organisasi., tidak bisa di tawar-tawar, bukan berarti hal-yang demikian tidak rohani, tidak kristiani, atau tidak mengasihi, itu hal yang sangat berbeda. Tetapi tanpa sebuah proses yang fair, seseorang diberikan sanksi, maka kepemimpinan menjadi lalim dan perlu diminta tanggungjawabnya dalam forum pertanggungjawaban organisasi yang resmi.

Undang-undang di negara kita ini, menjamin seseorang bebas berpendapat, berkreasi dan berkumpul, dan melakukan aktifitas sosial, namun orang yang sudah dewasa selalu memiliki pertimbangan yang arif, yang memenuhi unsur rasionalitas, kebermanfaatan atau dampak yang dihasilkan, dan yang lebih tinggi adalah tuntutan etis dalam melakukan suatu aktivitas. Boleh saja para hamba tuhan, aktivisi GBI mengadakan sejenis yayasan, perkumpulan atau apapun, malah sangat kita harapkan. Tetapi pertanyaannya kenapa tidak disalurkan melalui lembaga yang ada, dalam hal ini sinode GBI, sehingga sinode semakin kuat. Saat kita membuat suatu aktivitas di luar saluran utama, cepat atau lambat bibit-bibit perpecahan turut kita tabur. Apalagi misalnya membawa nama Bethel atau mengkalim nama Bethel secara nasional, ini sangat mirip dengan prilaku para politisi, karena tidak terakomodir di partai lama, maka di bangunlah partai baru, tapi masih memakai embel-embel partai lama, hal-hal seperti ini yang menurut saya tidak etis. Sudah pasti kepemimpinan sekarang jauh dari sempurna, dan tidak ada pemimpin yang sempurna, tapi apabila kita satu keluarga, setiap kelemahan haruslah kita perbaikinya ke dalam, melalui saluran-saluran resmi, sampai pada suksesi kepemimpinan berikutnya secara reguler. Organisasi kita memiliki ruang yang luas untuk semua masukan di setiap tingkatan. Apabila masukan tidak diterima, itu sebuah konsekuansi, tetapi dari kita dituntut sebuah kedewasaan dengan tidak perlu membangun sebuah kelompok misalnya menjadi oposisi.

Oposisi apabila tidak hati-hati bisa membuat perpecahan dikemudian hari. Kita rindu GBI tetap utuh, walau itu juga hanya sebuah harapan, karena tidak ada jaminan, tapi kita belajar dari sejarah gereja, sejarah bangsa, bahwa perpecahan selalu tidak baik, akan menimbulkan banyak korban dan kerugian.Tetapi bersatu akan membuat kita semakin kuat.

Karena itu sebagai pejabat GBI, saya merindukan para senior-senior di GBI bisa menahan diri, bisa saling menguatkan dan saling mempersatukan. Senior kita harapkan memberikan mentoring kepada junior, Junior terbuka untuk dimentoring oleh senior, akan tercipta kesinambungan, dialog dan kekuatan di dalamnya. Semoga para pemimpin GBI saat ini memahami dinamika yang berkembang sekarang, dan mau merangkul semua pihak, tetapi tetap menjalankan prinsip-prinsip berorganisasi dan diatasnya itu prinsip kebenaran dan kasih. Semoga GBI menjadi gereja yang melayani, gereja yang menjadi contoh persatuan di Indonesia, dan Gereja yang membawa kebenaran. Selamat Ulang Tahun ke 50 GBI. ***  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *