Nasional News Testimoni

Pdt. Pengky Andu:MEWARISKAN “JEJAK PEMIKIRAN” MELALUI KOTBAH & BUKU MOTIVASI KEHIDUPAN

JAKARTA,Beritarem.com,- Cerdas, berwawasan luas, setia, enerjik, supel, pemberani & pantang menyerah. Begitulah kata yang tepat diungkapkan ketika berjumpa dengan sosok hamba Tuhan bernama Pendeta Pengky Andu. Pria kelahiran Blitar, 6 September 1944 ini dikenal dengan julukan “Pendeta Motivator”, karena di dalam setiap tema kotbahnya selalu menyelipkan materi motivasi kehidupan yang dikupas selaras dengan firman Tuhan atau Alkitab.

Pengky, demikian sapaannya, menyelesaikan pendidikan di Akademi Ilmu Maritim (AIM) jurusan Nautika Surabaya. Tak heran jika dirinya pernah bekerja di perusahaan pelayaran; menjadi seorang pelaut, menahkodai sebuah kapal mengarungi samudra raya serta berkeliling Indonesia hingga mancanegara. Kiprahnya sebagai pelaut selama belasan tahun itulah, membentuk dirinya menjadi pribadi yang tangguh, pemberani, dan pantang menyerah. “Bekerja di laut itu banyak sekali tantangannya, banyak godaannya dan banyak pula uangnya. Tetapi saya banyak belajar dengan laut, dengan deburan ombak yang kuat, membuat pribadi saya menjadi tangguh, berani dan pantang menyerah,” ujar ayah dari 3 anak: Lucky Ratna Yuanita, Dessy Ratna Natalia & Daud Natanael.

Buah pertobatannya pada tahun 1983, membawa dirinya terjun ke dunia pelayanan. Terbukti, pada tahun 1986, suami dari Almh. Endang Satini yang dikaruniai 4 cucu (Dio, Jordan, Veli & Ben) ini pernah menjabat sebagai Ketua Yayasan Pekabaran Injil Surabaya (YASPIS), dan Ketua Yayasan Air Hidup Jakarta pada tahun 1994. Sebelumnya, pada tahun 1990, Ia bersama keluarganya melayani secara fulltime di House Of Inspiratiom Motivation (HIM) Surabaya.

28 Tahun Bolak-Balik Jakarta-Surabaya & Setia Melayani Di GBI REM

Pada tahun 1992, Pengky Andu bergabung dengan GBI Rahmat Emmanuel Ministries yang didirikan oleh Pdt. Abraham Conrad Supit & Almh. Elsye Cramer di kawasan Jalan Tanah Abang II, Cideng, Jakarta Pusat. Pada waktu itu, Pdt. Pengky Andu & Alm. Pdt. Romeo Sahertian menjadi pelaku sejarah perjalanan GBI REM mendampingi Pdt. Abraham Conrad Supit. Dalam pelayanannya, Pdt. Pengky Andu juga pernah dipercayakan menjabat sebagai Wakil Gembala Sidang GBI REM. “GBI REM itu seperti rumah saya yang kedua. Saya berjanji kepada Tuhan, akan setia melayani di GBI REM sampai akhir hayat,” demikian perkataan Pdt. Pengky Andu yang sering diucapkan.

Baca Juga : Maknai Usia ke 76 tahun, Pdt. Pengky Andu: Saya Merasakan Kebahagiaan Bersama Sahabat & Keluarga!

Janji setia melayani Tuhan di GBI REM bukanlah isapan jempol belaka. Pengky pun membuktikan ucapannya, rela naik pesawat pulang pergi Jakarta-Surabaya yang dilakoninya selama 28 tahun terhitung sejak bergabung tahun 1992 sampai sekarang. Termasuk memutuskan tetap bergabung dan melayani di GBI REM, ketika pergantian kepemimpinan gereja digembalakan oleh Pdt. Paulus Supit sejak Mei 2019 hingga sekarang. “Kalau saya mau cari uang, banyak sekali yang ingin mengundang saya. Karena komitmen dan janji saya kepada Tuhan, bahwa setiap hari Minggu saya akan setia melayani di GBI REM, apapun yang terjadi. Ini komitmen dan janji kesetiaan yang tidak boleh dikhianati. Jujur saja, di Surabaya itu banyak sekali gereja yang mau undang kotbah Minggu, tetapi saya tolak. Dan sampai hari ini, saya belum pernah absen sekalipun dalam pelayanan Minggu GBI REM, kecuali kalau tidak ada jadwal kotbah,” tutur Pdt. Pengky bersemangat meski kini menyandang status single parent setelah sang Istri dipanggil Tuhan 20 Januari 2020 di sebuah Rumah Sakit di Surabaya.

Pribadi Yang Cinta Tuhan & Cinta Keluarga

Kebersamaan Opa Pengky Andu bersama empat cucunya (Dio, Jordan, Veli & Ben) saat merayakan ultah.

Perkataan yang diucapkan oleh Pendeta asal Surabaya dengan gaya bicaranya blak-blakan itu seringkali selaras dengan perbuatannya. Maksudnya, apa yang diucapkan, baik di tengah keluarganya, rekan pelayanan, maupun kotbahnya tidak pernah diingkari. Istilahnya tanpa tedeng aling-aling. Apa adanya. Jika ya katakan ya. Jika tidak katakan tidak. “Contohnya yang paling nyata adalah ketika saya ambil keputusan memilih gabung dengan GBI REM bersama dengan Pdt. Paulus Supit. Saya tahu persis perjalanan GBI REM, dan juga kenal baik Pak Conrad Supit sebagai senior saya dalam pelayanan. Lalu kenapa saya pilih GBI REM? Karena saya diberikan pilihan. Dan karena itu merupakan bukti kesetiaan saya, bahwa GBI REM adalah rumah saya kedua,” papar Pengky.

Momen kebersamaan saat rayakan ultah Opa Pengky di Surabaya

Hal itulah yang juga dibuktikan dalam kehidupan keluarganya. Pdt. Pengky sangat mencintai keluarganya terutama almh istrinya, anak-anaknya dan cucunya. “Saya sempat mendoakan istri yang dalam keadaan koma saat itu. Saya katakan kepada istri dengan sedikit berteriak, bahwa saya akan menjaga anak-anak dan berjanji tidak menikah lagi. Kemudian saya katakan, jika mau pergi, pergilah dengan damai. Sekali lagi, saya janji akan tetap bertanggungjawab kepada anak-anak &cucu,” begitu ucapan Pdt. Pengky sesaat sebelum kepergian sang Istri untuk selamanya.

 Wariskan Jejak Pemikiran Melalui Kotbah & Merilis Buku

   

Pdt. Pengky Andu bukan hanya piawai dalam berkotbah maupun sebagai motivator saja, tetapi Ia juga pintar merekam buah pikirannya dengan merilis beragam buku. Ia rindu, bahwa “jejak pikiran”nya itu bisa diwariskan menjadi karya indah yang dapat dibaca banyak orang. Tema-tema kotbah yang disampaikan ke jemaat, kemudian ditulis menjadi belasan buku. Sebut saja diantaranya: Bahagia Tanpa Sebab; Beribadah Dengan Akal Sehat; Airmata Yang Diubahkan Menjadi Mata Air; Monumen Atau Batu Nisan; Cantik Tanpa Kecantikan; Emotion For Success; Personal Power; Personal Excellence; Change Happiness Success; Why Me Lord?; I Believe, I can Fly; Challenge To Change, dan lain-lain.

“Apa alasan Anda bahagia? Apakah harta yang berlimpah? Apakah hidup yang mulus tanpa persoalan? Apakah anda merasa bahagia justru dalam kesederhanaan? Atau bahagia dalam penderitaaan Anda?. Ibarat roda yang berputar, hidup kita kadang berada di atas, kadang pula di bawah. Saat kita di atas tentu kita merasa bahagia. Saat kita di bawah, atau saat beban begitu menghimpit, kita menuduh bahwa kebahagiaan meninggalkan kita. Perasaan bahagia itu muncul karena kita memandang dunia menurut apa yang kita lihat, bukan apa yang susungguhnya terjadi. Padahal kita mesti ingat bahwa bersama dengan persoalan yang kita sedang hadapi, sebenarnya kita juga telah menerima berkatNya, yaitu campur tangan Tuhan. Kita juga dingatkan kembali, bahwa kita sendirilah yang menentukan kebahagiaan hidup kita. Jadi untuk apa harus ada alasan untuk bahagia?,” urai Pdt. Pengky dalam tulisannya dalam bukunya yang berjudul “Bahagia Tanpa Sebab”.

Jika kita membaca ulang, dari belasan buku karya Pdt. Pengky tersebut di atas memang banyak menuliskan tentang motivasi, kiat sukses, dan inspirasi kehidupan yang dikupas secara brilian bernafaskan Alkitab. Melalui  karya-karya itulah nama Pdt. Pengky semakin populer di dunia kekristenan, terutama di kalangan gereja karismatik & pentakosta. Bahkan jika mencari judul buku karangannya yang diterbitkan oleh Andi Offset atau Gramedia, hampir semuanya terjual habis di toko buku. “Puji Tuhan, saya telah menulis 14 judul buku. Dan sampai saat ini, buku-buku saya itu laris manis dijual di pasaran. Saya sendiri saja tidak punya file-nya!,” tandas Pdt. Pengky yang hobi membaca buku,mendengarkan musik serta menyanyikan tembang-tembang bernuansa klasik. SM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *