Event News Renungan Selebritas

Pencipta Lagu “Hidup Adalah Kesempatan” Telah Berpulang, Tetapi Karyanya Terus Menjadi Berkat Bagi Setiap Umat Dalam Melayani Tuhan

Jakarta,Beritarem.com,- Lagu berjudul “Hidup Ini adalah Kesempatan sangat populer di blantika musik rohani tanah air. Bahkan lagu ini juga sangat sering dinyanyikan oleh umat Kristiani dari berbagai denominasi gereja dengan penuh penjiwaan. Melodi yang enak didukung lirik yang sederhana nan indah menyentuh membuat lagu ini cepat melekat dalam ingatan dan hati setiap insan yang melantunkan. Terciptanya lagu ini pula, tak sedikit orang yang merasa diajak untuk memaknai seluruh hidup hanyalah sebuah kesempatan untuk melayani Tuhan dan sesama.


Namun sayangnya, meski lagu sudah sangat populer di telinga umat Kristiani, ternyata tidak banyak yang tahu siapa pencipta lagu itu.
Pencipta lagu tersebut adalah Wilhelmus Latumahina, seorang hamba Tuhan sekaligus Gembala Sidang Bethesda Serua, Ciputat yang amat mencintai panggilannya serta selalu hadir menguatkan umat dengan lagu-lagu ciptaannya. Pdt. Wilhelmus telah pulang ke rumah Bapa di Sorga pada 12 Mei 2020 pukul 17.00 Wib dalam usia 64 tahun di RS Sari Asih di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Informasi yang diperoleh,Pdt. Wilhelmus Latumahina meninggal karena serangan jantung.
Semasa hidupnya, Pdt. Wilhelmus juga dipercaya menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Masyarakat Kristen Indonesia Timur (PMKIT) dan pengurus GBI Perwil 3 Banten.
Sesuai goresan catatan dari berbagai sumber, Lagu Hidup adalah Kesempatan ini dirilis tahun 2015, namun baru belakangan viral dan dinyanyikan di mana-mana. Lagu tersebut diciptakan oleh Pdt. Wihelmus dan dinyanyikan pertama kali oleh Darmawan Soetedjo, Susanto Wibowo, Timotius Sumaraw, Loderman Sagala, Ray Stephen, Hutama Tedja, Aswan Madutujuh dan Olga Victoria dalam album Hidup Ini adalah Kesempatan. Dan dalam album terbaru Herlin Pirena berjudul Pujilah Tuhan Hai Jiwaku lagu ini pun bersua.
Lirik lagu “Hidup Adalah Kesempatan” membawa pesan atau ajakan yang sangat kuat soal pilihan melayani Tuhan. Melalui karyanya ini, Pdt. Wilhelmus memantik kesadaran bahwa pada diri setiap orang umat Kristiani telah melekat predikat sebagai pelayan Tuhan. Dan kesediaan melayani merupakan bentuk rasa syukur orang yang bersangkutan atas karya besar Allah dalam diri Yesus Kristus yang telah merelakan diri datang ke dunia, melayani, mengalami derita disiksa, mati dan bangkit mulia dari alam
Lewat karya Pdt. Wilhelmus, setiap manusia disadarkan kembali bahwa hidupnya berada dalam sebuah rentang waktu dan adalah sebuah kesempatan. Manusia tidak memiliki banyak waktu di dunia ini bahkan tak seorang pun tahu kapan Tuhan akan memanggil. Banyak orang diberikan kesempatan untuk hidup lebih lama, tetapi ada pula orang yang diberikan kesempatan hidup hanya sebentar saja. Ini bukan tentang berapa lama waktu yang Tuhan berikan, namun seberapa efektif kita menggunakan waktu yang Tuhan berikan.
Jadi, jangan sia-siakan kesempatan ini dengan melakukan hal-hal yang Tuhan tidak kehendaki. Setiap orang dipanggil menggunakan kesempatan hidup untuk memberkati orang lain. Memberkati orang lain sejatinya bisa dilakukan dengan banyak hal, juga melalui hal-hal sederhana!
Berikut ini adalah lirik lagu yang sederhana, yang sangat memberkati :
Verse
Hidup ini adalah kesempatan/ Hidup ini untuk melayani Tuhan/ Jangan sia-siakan apa yang Tuhan b’ri/ Hidup ini harus jadi berkat
Reff :
Oh.. Tuhan pakailah hidupku/ Selagi aku masih kuat/ Bila saatnya nanti/ Ku tak berdaya lagi
Hidup ini sudah jadi berkat//
Jika ditengok ke masa silam, lagu ini lahir dari peristwa sedih yang penggubah alami. Oleh karena sebuah kecelakaan pada 2004, seorang anaknya yang bernama Samuel Latumahina ketika berumur 17 tahun meninggal. Dalam perenungan dan kesedihan yang mendalam, Tuhan “menaruh” dalam hati Wilhelmus sebuah frase “Hidup ini adalah kesempatan”. Tidak lama atau malah bersamaan dengan itu mengalirlah syair, kata demi kata. Kata-kata itu bertautan dengan firman Tuhan yang berbunyi Ada pun manusia hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang, apabila datang panas terik, maka rumput menjadi kering sehingga gugurlah bunganya. Melodi pun mengalir begitu saja, yang segera Wilhelmus olah. Maka jadilah sebuah lagu yang indah.
Bait kedua lagu diambil dari ayat firman Tuhan: Ada pun hari-hari hidup manusia seperti rumput, seperti bunga di padang, apabila datang panas terik, maka rumput menjadi kering sehingga gugurlah bunganya.
Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, sampai tahun-tahun hidup itu sesungguhnya adalah sebuah kesempatan yang dianugerahkan Tuhan.
Saat mendengar lagu Hidup Ini Adalah Kesempatan kita diingatkan bahwa keberadaan kita adalah sebuah kesempatan besar. Sama halnya seperti Yeremia dan Daud, Tuhan menciptakan kita untuk tujuan besar. Salah satunya adalah memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal baik dan yang memuliakan Tuhan.
Di lirik lagu ini dituliskan bahwa kita memiliki kesempatan untuk melayani Tuhan dan bisa menjadi berkat buat orang lain. Itu artinya, hidup kita bukan sesuatu yang sia-sia atau tidak penting. Sebaliknya, Tuhan mau kita memakai sisa hidup kita maksimal dan berguna bagi orang lain. REST IN PEACE Pdt.Wilhelmus. Karyamu terus terkenang. SM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *