Event Gagasan Nasional News

Refleksi HUT RI ke 75 di Tengah Pandemi Corona, Dr. John N Palinggi, MBA (Pengamat Sosial): Negara Akan Maju Dengan Penegakan hukum Yang Tegas!

Jakarta,Beritarem.com,- Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus, biasanya dirayakan sangat meriah dari Sabang sampai Merauke. Namun tahun 2020 ini, beragam perlombaan atau semarak kemerdekaan nampaknya tidak bisa digelar seperti tahun-tahun sebelumnya akibat pandemi Covid-19. Bahkan perhelatan upacara kemerdekaan yang rutin diselenggarakan setiap 17 Agustus di Istana Negara, Jakarta, tahun ini akan dilaksanakan secara lebih sederhana, minimalis, dan tentu tetap mematuhi protokol kesehatan untuk memutus mata rantai virus Corona.

Dr. John Palinggi ketika ditemui di ruang kerjanya

Mengemuka sebuah pertanyaan, bagaimana memaknai kemerdekaan sesungguhnya? Pengamat sosial, Dr. John N Palinggi, MM.,MBA, mengatakan, bahwa, memaknai kemerdekaan itu adalah memperingati hari yang bersejarah untuk memerdekakan atau membebaskan bangsa dari belenggu penjajahan. “Artinya dengan kemerdekaan itu kita dapat melakukan sesuatu sebagai bangsa yang berdaulat. Dan sebagai bangsa yang berdaulat, untuk mencapai hal tersebut banyak sekali pengorbanan. Pada saat itu, ada ayah, ibu maupun anaknya yang meninggal lebih dahulu. Sehingga banyak sekali pahlawan yang dimakamkan di taman makam Pahlawan. Itulah sebabnya setiap prestasi yang ada di bangsa ini dimaknai dengan cara memberikan penghargaan, serta berdoa bagi keluarga yang ditinggalkan,” ujar Dr. John yang sangat dekat dengan Presiden dari masa ke masa, terbukti terpampang foto bareng dengan Presiden Soeharto hingga Jokowi di ruang kerjanya.

Dr. John menilai, saat ini, sebenarnya makna perayaan HUT RI yang menjadi simbol kemeriahan di tengah masyarakat telah berubah atau mengalami degradasi nasionalisme serta memicu lunturnya semangat Proklamasi. Hal itu disebabkan oleh banyaknya oknum pejabat yang melanggar hukum. Padahal seharusnya pejabat negara itu berjuang bagi bangsa dan rakyat itu tanpa pamrih, tetapi justru merusak tatanan berbangsa dan bernegara. “Jadi kalau saya melihat ada begitu banyak hal yang membuat luntur; baik secara jiwa kesatria, maupun disiplinnya sudah menggejala dan meluas di tengah masyarakat. Dan ironisnya yang dielu-elukan adalah orang-orang yang merusak negara, melalui keuangan negara di perbankan. Bahkan orang-orang yang dihormati ini, justru mengambil uang negara karena bisnisnya dimacetkan dan tidak berani ditindak. Ada banyak yang mengambil uang/korupsi melalui pembelian barang. Ada pula yang mengambil/korup melalui jabatannya,” urai Ketua Harian Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA) ini bersemangat.

Lanjut, Dr. John, bangsa ini tidak bisa menjadi besar, apabila masih banyak pejabat yang tidak taat pada hukum, serta sering mempermainkan hukum. “Salah satu cara untuk membuat negara maju adalah adanya upaya penegakan dan ketegasan hukum atau kepastian hukum. Bukan diinterpretasikan dan diperdagangkan. Disinilah dibutuhkan kesatuan untuk membangun bangsa. Yaitu dengan cara mengamalkan Pancasila untuk membangkitkan kesadaran berbangsa dan bernegara, saling menghargai, serta saling menghormati. Meskipun berbeda suku, agama, etnis dan golongan. Kalau sekarang ini kan justru ditanyakan partaimu apa, sukumu apa? Padahal tidak perlu membawa-bawa suku, etnis dan golongan dalam membangun bangsa ini. Saya optimis kita bisa tumbuh dan berkembang seperti bangsa-bangsa yang sudah mandiri serta merdeka dalam segala hal,” paparnya.

Harapan kita sebagai anak bangsa dalam merayakan HUT kemerdekaan RI ke 75 di tengah pandemi corona saat ini? “Saya kira, perayaan HUT ke 75 kemerdekaan itu selain mengenang dan mendoakan para pahlawan yang telah gugur dan keluarga yang ditinggalkan, tentu kita tetap berharap melalui momentum kemerdekaan itu adalah kesejahteraan rakyat. 75 tahun Merdeka tentu sebagai warga negara yang benar selalu memiliki pengharapan yang besar. Kesulitan sebesar apapun kalau kita beragama, saya yakin Tuhan akan menyelesaikan masalah itu. Karena Tuhan lebih besar dari persoalan-persoalan duniawi. Namun sayangnya, dalam 20 tahun belakangan ini yang saya amati, kita tidak bisa sejahtera dengan banyaknya pencuri-pencuri uang negara. Dan sebagai anak bangsa harus setia pada negara, warga negara yang menghormati negaranya, tunduk dan taat pada hukum yang berlaku, serta menghormati Presidennya,” pungkasnya. SM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *