Gagasan News

Simon HS (Penulis Buku Small Matters Big Impact): Tanggapan mengenai viralnya video khotbah Pdt Stephen Tong dan Pdt Niko Nyotoraharjo

Beritarem.com-Berhubung dengan kasus viralnya pertentangan video kotbah bp Pdt Stephen Tong versus bp Pdt Niko Njotoraharjo beberapa waktu yang lalu dan beredarnya komentar-2 berbagai pandangan dari hamba-hamba Tuhan yang lain, ditambah pula dengan komentar-2 yang bermunculan di level jemaat, dengan segala kerendahan hati, ijinkan saya membagikan hal-hal di bawah ini untuk menengahi kasus-kasus yang terjadi dalam pelayanan agar hal seperti ini tidak terulang.

Saya mengajak yg terhormat:
-Bp/ibu yg telah memberi komentar atas video tersebut.
-Bp/ibu yang merekam video.
-Bpk/ibu yang mem’viral’kan video tersebut.
-Bp/ibu pengerja gereja..
-dan kepada seluruh umat Tuhan
agar dapat saling menahan diri.

Perubahan Zaman 
Dalam kesempatan ini, saya ingin menyampaikan tentang hal-hal yang mungkin telah luput dari pandangan hamba-hamba Tuhan
– Zaman sudah berubah, dan kita sekarang memasuki babak baru dalam pelayanan mimbar. Dalam Era Globalisasi , gereja-gereja sebaiknya jangan berpikir lagi untuk “Lokal”isasi.
– Jika dahulu ada yang namanya ‘kalangan sendiri’, bagaimana dengan zaman sekarang? Sampai dimanakah batasan ‘kalangan sendiri’ itu? Apakah ada ‘kalangan sendiri’ di dalam _streaming?_
– Apakah sistem, SOP ( Standard Operational Procedure) yang ada di gereja sudah cukup untuk memperlengkapi sebuah pelayanan?
– Bila pelayanan tidak dapat mengakomodir kebutuhan zaman _now_ dengan pengetahuan yang memadai, maka pelayanan akan kuno , aneh , tertinggal , atau sebaliknya malah akan menimba lawan .

Dalam kasus viralnya ‘video’ di atas…
– Pdt Stephen Tong tidak bisa disalahkan sepenuhnya, sebaliknya demikian pula dengan Pdt Niko Njotoraharjo.
– Pdt Stephen Tong khotbah di gereja untuk jemaat yang adalah ‘kalangan sendiri’, (namun secara streaming), demikian pula dengan video Pdt Niko yang di share kepada jemaat ‘kalangan sendiri’.
– Lalu dimana letak kesalahannya? Pertanyaan ini bukan untuk membahas soal doktrin yang benar/salah secara teologi, tetapi ada suatu missing link dalam kasus tersebut.

Pertama :
Seperti yang telah kita ketahui, bahwa kemajuan zaman ini dipicu oleh perkembangan sains & tehnologi, IT, AI ( Artificial Intelligent ) dsb, hingga globalisasi telah menghilangkan batasan antar negara. Informasi bukan lagi menjadi hal yang sulit diperoleh, bahkan sekarang dikenal dengan istilah dunia dalam genggaman yaitu menggunakan smartphone (HP).

Untuk itu, gereja seharusnya juga _smart_dalam memberikan pelayanan, seharusnya ada SOP, dan tidak memposting video yang belum diedit/difilter untuk konsumsi umum, agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan dan merugikan diri sendiri, orang lain atau gereja secara keseluruhan.

Sudah ada beberapa korban, salah satunya yaitu seorang hamba Tuhan yang berkhotbah pada tahun 2010, kemudian rekaman khotbah berupa video (yang seharusnya ‘kalangan sendiri’) itu di upload ke Youtube oleh seseorang. Dan pada tahun 2019 beliau harus berurusan dengan penegak hukum karena ada orang yang mengajukan tuntutan dengan dakwaan pelecehan atas budaya dari salah satu suku dan penistaan agama tertentu. Apapun alasan yang diajukan (kalangan sendiri) oleh hamba Tuhan tersebut tidak ada gunanya karena khotbah beliau ada di Youtube telah menjadi menjadi bahan bukti . Tetapi, untungnya sebelum kasus itu diproses lebih lanjut dan muncul ke permukaan, beliau diberikan kesempatan untuk mencabut perkataanya dan meminta maaf.

Kalau tujuannya untuk ‘kalangan sendiri’, sebaiknya dilakukan dengan pengawasan secara ketat , misal: menggunakan ID, password, keanggotaan ( member ) dan lain sebagainya.

Kedua :
Kita telah mengetahui, bahwa perdebatan dalam perbedaan doktrin sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, namun diskusinya hanya diikuti hanya oleh orang-orang tertentu dan terjadi di forum tertutup . Sekarang dalam Era Globalisasi semua terbuka , yang seharusnya untuk ‘kalangan sendiri’ dan untuk konsumsi jemaat -karena disiarkan secara streaming- menjadi konfrontasi terbuka antar pemimpin Kristen, bahkan antar pemuka agama yang lain. Dengan demikian, tidak dapat dihindarkan lagi, jemaat dari dua kubu dan orang awampun akhirnya ikut nimbrung berbicara sekehendak hati mereka, mengutuki, memaki, menggurui dan menghakimi hamba-hamba Tuhan tersebut tanpa ampun.

Ini bukan forum yang tepat untuk mendewasakan jemaat, namun malah menjadi tempat penyebaran virus perpecahan yang memancing jemaat untuk berbuat dosa karena mengumbar isi hati . Hendaknya gereja, hamba-Nya dan umat Tuhan bijak dalam menyikapi hal ini.

Ketiga :
Setiap orang sekarang memiliki perangkat untuk menjadi pemberita, yang dapat merekam kejadian-2 di sekitarnya bahkan lengkap dengan video. Demikian pula kotbah di gereja dapat direkam oleh seseorang dan dapat diviralkan melalui medsos. Harusnya ada edukasi bagi jemaat dalam menggunakan perangkat ini saat ibadah. Bagaimana *etika* dan sejauh mana batasan-2 yang harus diterapkan. Karena ada yang menggunakan HP untuk mencatat, ada _e-bible_, namun ada pula yang sedang _typing_ WA dan bermain _game_ saat ibadah berlangsung. Apa jadinya, bila ada pengunjung yang mengikuti jalannya ibadah lalu merekam dan memposting sebagian dari isi kotbah untuk kepentingan-2 tertentu?

Seperti kita ketahui bahwa setiap orang memiliki HP dapat merekam dan menyebarkan info tentang hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Dulu tugas ini hanya dilakukan oleh wartawan yang mana mereka terikat dengan kode etik jurnalistik untuk memberikan informasi yang benar. Dan untuk seorang menjadi wartawan diperlukan landasan moral , etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme yang tidak dimiliki oleh para blogger, vlogger youtuber dan …er-er lainnya. Di sinilah perlunya edukasi bagi umat Tuhan agar menjadi garam dan terang bagi dunia yang dalam kegelapan.

Keempat :
Ada tertulis bahwa akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat… mereka mendengar hanya untuk memuaskan telinganya. Zaman sekarang tersedia banyak sekali layanan video khotbah melalui _chanel_ TV, Youtube dan lain-lainnya. Jemaat yang tidak suka isi khotbah dari salah satu _chanel_ TV, bisa dengan mudah berpindah ke _chanel_ yang lain, yang berarti pindah dari satu denominasi ke denominasi yang lain dalam sekali pencet tombol _remote_ .

Alangkah baiknya bila ada pengajaran yang mendewasakan jemaat dalam pengendalian diri , menjadikan mereka pelaku dan bukannya berteori atau malah mengemukakan perbedaan doktrin. 2Timotius 4:5 Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!

Kelima :
Sangat penting untuk mempelajari hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dalam _Public Speaking_ agar tidak merugikan diri sendiri, orang lain atau gereja secara keseluruhan. Oleh sebab itu harus ada SOP bagi pembicara saat berkhotbah, mengingat pada masa sekarang ini bahkan sampai beberapa bulan ke depan gereja harus tetap melakukan ibadah secara _on-line_ .

Dahulu untuk kegiatan penyiaran hanya dapat dilakukan melalui jaringan radio atau tv yang telah memiliki ijin peyelenggaraan penyiaran. Bila gereja mau melakukan suatu siaran selalu ada orang-orang dari studio yang memberi pengarahan dan pasti ada seorang yang menjadi penanggungjawab untuk hal-hal yang terkait dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Komisi Penyiaran. Sekarang tidak lagi, gereja harus bertanggungjawab sendiri atas siaran dan isi khotbah yang disiarkannya. Bagaimana jika penyiaran khotbah ini menjadi konflik dikemudian hari? Tentunya kita tidak mau jika pemerintah ikut memantau atau menata cara kegiatan ibadah _on-line_ dengan banyaknya peraturan dan perijinan. Hendaklah gereja Tuhan bijak dalam menyikapi hal ini.

Demikianlah, ke lima hal missing link di atas saya sampaikan untuk dapat menjadi bahan pertimbangan -mana yang perlu dan yang tidak perlu- bagi hamba-hamba Tuhan agar memperoleh pengertian sehingga bijak dalam menyikapi kebutuhan umat-Nya di zaman sekarang. Dan semua hal tersebut di atas saya sampaikan bukan untuk menjaga agar kesenjangan perbedaan antar doktrin itu tinggal tetap, namun alangkah indahnya bila kita sebagai hamba Tuhan dapat melakukan pekerjaan pelayanan bersama bagi pembangunan tubuh Kristus. Terima kasih untuk perhatiannya, salam dan hormat saya.

Efesus 4:16
Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, –yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota– menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.

Sampai bumi penuh Kemuliaan-Nya.

Simon HS,
Penulis buku Small Matters Big Impact

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *