Event News Profil Testimoni

Suwandi Wijaya & Suwanto Wijaya, KISAH SUKSES “MILIARDER KEMBAR” TAKLUKKAN DUNIA BATUBARA (Part 1)

Jakarta,Beritarem.com,-Muda, tampan, ramah & sukses. Sekelumit kalimat ini pantas disematkan kepada dua pemuda kakak beradik yang terlahir kembar bernama Suwandi Wijaya dan Suwanto Wijaya. Wandi & Toto, begitu mereka berdua kerap disapa. Anak kedua dan ketiga dari pasangan Alm.Nawi T dan Nelly ini, kini sukses menjadi milyader di usia masa muda sebagai pengusaha batubara.

Ki-ka: Anthony, Toto & Wandi ketika diwawancarai Pdt. Pengky Andu di GBI REM Ciputra beberapa waktu lalu.

Namun, dibalik suksesnya sekarang, Wandi & Toto ternyata mengalami perjalanan hidupnya yang begitu pahit. Setelah sang Papa meninggal pada tahun 2003 lalu, Wandi & Toto sempat mengenyam getirnya hidup, kesulitan makan, dan hidup berkekurangan. “Ketika Papa masih hidup, kehidupan kami berkecukupan. Maklum Papa seorang pengusaha toko dan menjadi salah satu orang kaya di Lampung. Bahkan saat kuliah, semua kebutuhan saya dan Toto tercukupi. Tapi setelah Papa saya meninggal, kami mengalami hidup yang sulit. Semua harta peninggalan Papa habis dijual. Kita semua kakak beradik tidak bisa ngapa-ngapain. Boro-boro ada perhiasan emas, semua habis dijual. Mungkin orang lihat, casing kita saja seperti orang kaya. Tapi mereka mereka tidak tahu kalau saya menderita.Saya merasakan berada di titik nol. Bayangkan saja, untuk makan saja sulit. Di tambah lagi saya pengangguran. Sampai suatu ketika, saya berpikir ngapain kita hidup? Pengangguran, tidak punya uang. Teman-teman yang ngajak mabok dan minum minuman keras banyak sekali. Puji Tuhan, saya tidak pernah mau mabok-mabokan, tidak mau pakai narkoba, dan memilih untuk hidup berserah kepada Tuhan. Ketika kita berserah, disitulah Tuhan buka jalan. Ada saja yang bantu,” tutur Wandi mengenang masa-masa sulitnya.

ki-ka: Suwandi Wijaya (Wandi) & Suwanto Wijaya (Toto), Bintang Kembar Yang Tetap Kompak 

Termotivasi Jadi Pengusaha Batubara, Gara-gara Putus Cinta

Gara-gara sang kekasih memutuskan tali cintanya, membuat Wandi termotivasi untuk memulai petualangannya dan mencari tahu seluk beluk mengenai batubara. Maklum, ketika resmi putus, sang kekasih justru menjalin hubungan dengan seorang pengusaha batubara. “Sebelum terjun ke dunia batubara, saya sempat pacaran. Kata pacar saya, lu mau sama gue nanti, jaminanannya apa? Itu tahun 2003, dia minta jaminan ke saya. Waktu itu saya bilang gak mungkin, saya masih baru lulus kuliah, masak disuruh jamin. Lalu, pacar saya nanya lagi, lu sukses umur berapa? Bingung juga saya jawabnya. Kalau umur 30 tahun mungkin. Kalau lu umur 30 berarti gue umur 29 tahun. Pada saat lu sukses umur 30 lu masih mau sama gue yang umur 29? ya akhirnya saya gak munafik, saya cowok akan cari yang lebih muda. Akhirnya kita pisah. Yang sakit hatinya saya itu kenapa putus sama saya, dia jalan sama orang yang sudah sukses yang umurnya 33 tahun dan jadi pengusaha batu bara. Dari situ saya termotivasi. Apa hebatnya sih pengusaha batubara. Dengan spirit itu, saya gak boleh kalah. Saya harus berhasil. Mulai saat itulah saya cari tahu batubara itu apa. Singkat cerita, saya pulang ke Lampung, sempat jaga toko. Pada saat jaga toko itu saya sempat ikut multilevel marketing. Dulu ada namanya CNI. Nah saya coba tawarin. Saya sempat tawarin ke satu desa di Lampung. Dan di lampung itu saya ketemu Geologis Batubara namanya Pak Juanda. Kemudian, dengan pak Juanda saya sempat cari tahu batubara itu apa. Tahun 2004 Saya ikutin dia, ikut dia eksplorasi masuk hutan keluar hutan. Saya mulai cari tahu batubara dari nol. Saya belum tahu jualnya kemana. Di dalam tanah itu bentuknya seperti apa sih, nah itulah yang cari tahu. Saya sempat keliling sampai 6 bulan itu di hutan lampung,” ujar suami dari Wilda Susanto ini bersemangat.

Baca Juga: Suwandi Wijaya & Suwanto Wijaya, KISAH SUKSES “MILIARDER KEMBAR” TAKLUKKAN DUNIA BATUBARA (Part 2-Selesai)

Ki-ka: Anthony, Pdt. Paulus T Supit (Gembala GBI REM), Toto & Wandi.

 

Terjebak di Hutan, Nyaris Mati Kebawa Arus Sungai

Petualangannya untuk mencari tahu tentang seluk-beluk batubara dimulai ketika bertemu seorang teman bernama Juanda, seorang Geologis asal Lampung. Setelah sepakat untuk melakukan eksplorasi tentang keberadaan batubara, mereka berdua pun bergegas menuju hutan di kawasan Lampung. Jalan terjal dan berliku, menerobos hutan belantara yang sunyi, gelap dan banyak binatang buas. Namun tekadnya begitu kuat, eksplorasi batubara harus berhasil. “Awal mula saya ketemu pak Juanda. Saya ikut Pak Juanda berbulan-bulan, keluar masuk hutan. Waktu itu eksplorasi di hutan Lampung dan Palembang. Di dalam hutan itulah, ketemu dengan masyarakat di Pedalaman. Kemudian saya bertanya, Pak saya kalau mau ke tempat sana berapa lama? Katanya, dekat cuman satu kilometer. Eh ternyata satu hari baru sampai. Jadi kalau ketemu orang kampung, dia bilang satu kilo, itu satu harian. Saya berangkat dari pagi, matahari terbit sampai malam baru sampai. Sesampainya di sana sudah malam dan kita harus nginap di dalam hutan. Saya tidak tahu sedang berhalusinasi atau tidak, tetapi kami berdua ketemu orang dalam hutan, seperti pertapa. Dan saya lihat, orang tersebut tinggal sendirian di hutan. Disitulah kita tidur dan bermalam, bahkan sampai makan ayam hutan. Saya pikir, saat itu benar-benar tidak bisa pulang,” ungkap Wandi yang kini dikaruniai dua anak, Violet Charlene Wijaya dan Nathan Lyonell Wijaya.

Keesokan harinya, Wandi dan Juanda melanjutkan perjalanannya melewati sungai yang arusnya sangat deras. Dalam benaknya terbersit, bahwa sungai ini pasti aman karena lebarnya sekitar 5 sampai 6 meter dan mudah dilalui. Namun naas bagi Wandi dan Juanda saat itu. Ketika kakinya melompat, tak disangka, air sungai itu menggulung badannya. Wandi dan Juanda pun hanyut kebawa derasnya air sungai. “Ketika saya lompat ke sungai itu, di dalam itu airnya menggulung. Saya dan Pak Juanda hanyut. Bukannya saya tidak bisa berenang, tapi saya sudah tidak punya tenaga lagi. Dibawa arus air ya pasrah saja. Ya saya doa agar Tuhan tolong. Akhirnya saya megang akar pohon dan berjuang antara hidup dan mati. Puji Tuhan akhirnya saya dan Pak Juanda bisa keluar dari situ. Saya waktu itu sama teman saya Pak juanda, saling tolong, tarik tarikan dan selamat dari maut,” Cerita Wandi mengisahkan detik-detik selamat dari maut.

Bukan hanya hanyut kebawa arus sungai, Wandi juga mengaku pernah jatuh dari atas bukit. Sekujur badan dan wajahnya hancur, lecet-lecet karena kebentur kayu dan ranting-ranting tajam. “Jadi selama di dalam hutan, saya sudah ketemu bermacam-macam binatang. Saya jatuh dari bukit pun pernah saya alami. Muka saya hancur, kena bambu, kayu ranting dan sebagainya. Semua badan lecet-lecet. Bukan hanya itu, sekujur tubuh saya digigit sama pacet pun pernah,” tukas Sarjana lulusan Binus Jakarta.

Bagi Wandi, petualangan eksplorasi batubara menjelajahi hutan belantara lama-lama menjadi keunikan tersendiri. Segala macam yang berbau mistis pun pernah dijumpainya. Ia sering menyaksikan api terbang, keris berdiri sendiri, samurai jepang yang umurnya ratusan tahun dan lain sebagainya. “Di hutan lampung itu sudah saya masuki semua. Sampai saya sempat berhalusinasi di tengah hutan itu saya pernah lihat api terbang. Kirain waktu itu ada orang bawa obor, tapi dipanggil kok gak jawab. Saya juga pernah mau dikawinin sampai sebuah cincin. Ceritanya, ketika saya ketemu masyarakat pedalaman. Mereka bilang, ada sebuah cincin yang kawin sama saya. Hal-hal mistis saya sudah alami. Saya pernah lihat keris berdiri. Saya ketemu samurai jepang, pernah juga ketemu mata uang brazil satu peti di pedalaman. Samurai jepang itu tertulis tahun 1840. Berarti pedang itu umurnya sudah ratusan tahun. Baunya luar biasa. Katanya pada zaman dulu, masyarakat pedalaman itu membunuh serdadu jepang ketika sedang tidur. Kemudian pedangnya diambil,”urai Wandi.

Tertipu uang 80 Juta

Ketika mulai paham mengenai seluk-beluk batubara, Wandi bertemu dengan seorang pengusaha, namanya Johan. “Kemudian Pak Johan nawarin saya, wandi kamu ikut saya saja, di Banten ada eksplorasi batubara. Pak Juanda juga diajak, akhirnya kami berdua ikut Pak Johan ke Banten. Singkat cerita, kita jalani berdua. Waktu itu, saya dipercayakan sebagai administrasi, sedangkan Pak Juanda yang geologis. Pak Johan itu investor. Jadi saya sempat kerja sama dia, nambang di Banten, di daerah Bayah dan Malingping. Disitulah pengalaman saya, benar-benar nambang dengan alat berat untuk mengeluarkan batubara. Produk batubara ini dikirim dan dijual Pak Johan ke Jakarta. Nah saya baru tahu itu metode bisnisnya seperti apa. Nah saya terus belajar batu bara hingga mulai kirim ke pabrik-pabrik. Setelah sudah mulai paham dan mengerti tentang batubara, akhirnya saya mengundurkan diri dari Pak Johan. Saya pamitan, pak Johan saya keluar, dan mau jalan sendiri. Mulai sedikit demi sedikit, ada satu teman saya ajakin dagang batubara, kemudian dijual ke pabrik. Saya mulai sedikit, satu truk  2 truk, 3 truk dan seterusnya. Lumayan, tapi uangnya belum besar. Tapi saya sudah tahu jualnya,” tandas Wandi.

Namun naas bagi Wandi. Uang yang dikumpulkan dengan susah payah ditipu oleh temannya sendiri. “Saya ditipu oleh teman saya sendiri di Banten, sebesar 80 Juta. “Saya sempat ditipu di Banten uang sebesar 80 juta. Waktu itu bagi saya sudah besar sekali. Karena saya ngumpulin dari sedikit demi sedikit, sejuta, 2 juta 3 juta. Akhirnya saya punya modal 80 juta. Eh dibawa lari sama teman yang saya ajak kerjasama itu. Akhirnya saya sempat stress dan balik ke Jakarta. Waktu saya balik ke Jakarta, saya kerja serabutan gak tahu mau kerja apa. Sudah gak punya uang. Habis semua. Tapi saya pantang menyerah. Disitulah saya ketemu teman dari Bandung. Saat itu, dia datang dan mau pinjam uang untuk nikah. Nah pas dia lagi bergumul, kurang uang untuk nikah, saya juga bergumul gak ada kerjaan. Akhirnya datang orang ketiga, teman saya juga. Kemudian dia bilang, Koko gue nambang di Kalimantan, elo berdua mau ikut gak? Saya pikir boleh juga nih. Karena saya dan teman saya itu sudah mengerti batubara. Akhirnya kita bertiga berangkat ke Kalimantan Selatan. Saya diajakin ke daerah Batulicin Kalsel. Ketemu kokonya teman saya di sana. Memang tambangngya sudah besar. Alat beratnya sudah banyak. Singkat cerita, di Kalimantan inilah saya dapat fee dari hasil penjualan batu. Saya dapat fee dari situ. Saya masih ingat feenya bertiga dikasih 50 juta. Kemudian kita sempat beliin mobil vitara. Memang sudah mobil tua, tapi ya buat operasional wara wiri. Dari situ kita mulai berkembang, stay di Kalimantan selama 2 bulan 3 bulan. Maklum masih bujangan tidak ada yang cariin saya. Karena kita banyak channel, banyak orang yang mulai nanya-nanya kita tentang batubara. Suatu ketika kita dapat project PLN Suralaya. Jadi orang-orang mulai mempercayakan ke kita. Kemudian kita dikasih kepercayaan sama orang. Kita dikasih modal, kemudian kita nambang sendiri,” urainya.

Tahun 2008 Punya Modal beli Tambang Sendiri

Pada tahun 2008, setelah terkumpul uang lumayan banyak, akhirnya Wandi bisa nambang sendiri. “Saat itu, Wandi sempat bergumul apakah uang dimiliki untuk beli mobil atau yang lainnya. Maklum kan anak muda waktu itu. Akhirnya kita putuskan untuk modal beli tambang sendiri di Kalimantan. Itu juga tidak gampang, karena kita harus ketemu Bupati, untuk urus perizinan segala macam. Ketika kita beli tambang, ternyata tidak bisa langsung ditambang, butuh waktu 1,5 tahun lagi agar bisa ditambang. Kenapa? Karena tambang yang saya beli itu di atasnya ada perkebunan kelapa sawit. Nah, Kelapa sawitnya ini punya masyarakat yang dinaungi oleh satu perusahaan malaysia. Tidak gampang. Gak mungkin kita tebangi itu pohon. Dari situlah kita bergumul. Gimana nih kita sudah habis duit semua untuk beli tambang. Tidak bisa nambang. Tapi kita tetap semangat. Kita jalani saja, ketemu masyarakat disana. Mereka itu menghambat kita, agar tidak bisa nambang. Dengan lobi dan kita jalani 1,5 tahun itu akhirnya tambang bisa jalan. Mulai produksi, ijin semua beres, dan bisa menghasilkan uang. Tapi batubara itu tidak seenak yang kita lihat. Tahun 2012, harga batubara turun drastis, nyungsep. Habis-habisan lagi kita. Duit habis, akhirnya tambang itu kita jual. Saya dapat sedikit uang kemudian mulai menjalankan trading. Tahun 2014,2015, kita menjalankan trading. Kemudian tahun 2016 saya gabung dengan teman di Jakarta kita buka usaha trading. Nah di trading ini saya juga jatuh. Bisnis di batubara ini bukan langsung enak. Naik turunnya sudah banyak,” tukasnya. SM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *