Event Nasional News Renungan

Talkshow “Young On The Top”, Yen Yen (Pengusaha): Mencapai Sukses Dibutuhkan Keyakinan Yang Kuat!

Jakarta,Beritarem.com,-Setiap orang, khususnya anak-anak muda pasti mendambakan menjadi orang yang sukses, kaya raya, dan berpenghasilan tinggi. Ada yang ditempuh dengan cara melanjutkan pendidikan tinggi, bekerja keras, menabung, menjadi pengusaha dan sebagainya. Hal inilah yang mengemuka dalam ibadah sekaligus talkshow dengan tema “Young On The Top” (Yang Muda Yang Di Atas) di GBI REM Hotel Ciputra Lantai Dasar Ruang Puri 5-6, Grogol Jakarta Barat, (Minggu 9 Agustus 2020) siang. Talkshow ini menjadi sangat menarik, karena yang tersaji bukan hanya teori motivasi mengenai kehidupan bisnis saja, melainkan juga ada contoh konkrit dan kesaksian atau pengalaman orang yang sukses di masa mudanya.

Ki-ka: Pdt. Pengky Andu, Ibu Lily, Bapak James Gwee, Ibu Yen Yen, Ibu Yani (Ibu Gembala GBI REM), Pdt. Paulus Supit (Gembala GBI REM), Bapak Tjandra Widjaja, Marsya, & Vinesya

Meski di tengah pandemi corona & masa adaptasi kebiasaan baru, jemaat yang hadir tampak sangat antusias dalam mengikuti ibadah maupun talkshow, namun tetap mematuhi protokol kesehatan yang ketat, cek suhu, cuci tangan, wajib pakai masker, serta ruangan disemprot dengan cairan disinfektan sebelum kegiatan berlangsung.

Acara talkshow yang dimoderatori oleh Pdt. Pengky Andu ini menghadirkan sejumlah narasumber yang kompeten di bidangnya. Diantaranya adalah: James Gwee (Motivator nasional), Tjandra Widjaja (Pendiri Sekolah Penerbangan-Global Aviation), Yen Yen (Pengusaha Sukses), Marsya Raihan Arsyahadi (Pilot Wanita Muda), dan Vinesya Rofinaldi (Pilot Wanita Muda).

Sebelumnya, Pdt. Pengky Andu menyampaikan firman Tuhan dengan mengutip firman Tuhan yang terambil dalam kitab Daniel 1: 1-15. Lalu apa dan bagaimana syarat yang harus kita penuhi untuk menjadi “Young On The Top”? Menurut Pdt. Pengky Andu, kalau kita berbicara mengenai syarat untuk menjadi orang yang sukses di masa muda sudah dituliskan dengan jelas dalam kitab Daniel 1:4. ‘Yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim’. “Menurut anda, berpendidikan rendah tapi kaya atau berpendidikan tinggi tapi miskin? Nah saat ini di Indonesia banyak sekali anak-anak muda yang berpenghasilan tinggi sebulan, contohnya pilot-pilot wanita muda ini. Inilah saatnya anda yang masih muda, bisa menempati Young On The Top, bisa menjadi pemimpin, sukses di berbagai bidang dan berpenghasilan tinggi,” papar Pdt.Pengky Andu.

Ki-ka: Tjandra Widja & Marsya

Tjandra Widjaja (Pendiri Global Aviation): Sekolah Penerbang, Lulusnya Cepat & Gajinya Tinggi

 Tjandra Widjaja (Pendiri sekolah penerbangan Global Aviation), menjelaskan, jika ingin melanjutkan sekolah penerbang khususnya Pilot hanya memakan waktu sekitar 12 s/d 14 bulan dan diperlukan lulusan yang setara dengan SMA. “Jika dinyatakan lulus, bisa masuk di Airline dan langsung bekerja. Kalau zaman dulu, pemerintah memberikan beasiswa. Tetapi zaman sekarang, biaya mesti ditanggung sendiri. Memang dengan kondisi sekarang ini profesi sebagai penerbang agak terseok-seok, karena industri Aviasi di seluruh dunia sedang menurun akibat pandemi covid-19. Tetapi bukan berarti tidak menjadi pilihan anak-anak muda. Justru saat ini banyak anak-anak muda yang memilih profesi ini. Kenapa? Sebab sekolahnya diraih cepat, tidak perlu menunggu tahunan untuk menjadi profesional. Begitu lulus dan masuk di sebuah Maskapai, gajinya jauh lebih tinggi dari UMR. Mungkin 5 sampai 10 kali UMR langsung dapat,” ujar Tjandra yang telah menekuni karirnya selama 45 tahun.

Lanjut Tjandra, di sekolah penerbang ini, selain memperoleh pendidikan Akademis, juga mendapatkan pendidikan mental. “Jadi selama menempuh pendidikan sekolah penerbang, juga dibekali dengan ilmu-ilmu untuk mengatasi masalah dalam waktu cepat dan bertindak benar. Ini sangat diperlukan saat emergency (kondisi darurat). Di dalam kehidupan sehari-hari sebagai masyarakat biasa, hal ini sangat diperlukan dan menjadi suatu keuntungan. Karena di dalam kehidupan kita itu, tidak ada sesuatu yang pasti, dan kita sudah pelajari hal tersebut ,” tutur Tjandra.

Menurut Tjandra, untuk menjadi seorang penerbang, tidak hanya diperlukan kecerdasan akademis saja, tetapi juga secara fisik juga sangat menentukan. “Karena setiap 6 bulan sekali, kita akan diuji secara fisik sehingga kita layak untuk menerbangkan pesawat. Karena dalam menerbangkan pesawat diperlukan fisik yang prima. Disamping itu kita juga harus meng-update pengetahuan umum, teknologi, dan skill bahasa Inggris. Itu sebabnya, setiap penerbang itu dibekali multi tasking yang baik. Contohnya, Marsya dan Vinesya ini meskipun belum lama menjadi penerbang, tetapi sudah profesional. Mereka ini bukan hanya sekedar menjadi pilot, di waktu senggangnya bisa menjadi pengusaha.Karena sudah terbiasa berjumpa dengan hal-hal yang baru dan menemukan jaringan orang-orang di daerah. Saya sendiri pribadi selain mengelola sekolah penerbangan, juga menekuni beberapa bisnis, yang terbaru adalah mengembangkan teknologi pupuk dari batubara. Dan itu sudah diakui di Amerika dan kami sudah memiliki hak paten bulan Juli yang lalu, dan menjadi produk satu-satunya di dunia,” pungkas Tjandra sembari menambahkan bahwa biaya sekolah penerbangan hingga lulus bisa mencapai 900 Jutaan.

Ibu Yen Yen (Kedua dari kiri) ketika menjadi narasumber dalam talkshow “Young On The Top” Minggu, 9/8/2020 di GBI REM Hotel Ciputra Lantai Dasar

Yen Yen (Pengusaha Sukses): Mencapai Sukses Dibutuhkan Keyakinan Yang Kuat

Sementara itu, Yen Yen (pengusaha sukses), menceritakan pengalamannya ketika memulai usahanya. “ Saya datang ke Jakarta pada tahun 1990. Selama dua tahun saya kerja dengan orang. Karena kepepet pada waktu itu, akhirnya saya memutuskan untuk usaha sendiri. Jadi saya mulai usaha sendiri sejak tahun 1992 sd 1993 hingga hari ini (27 tahun),” tutur Wanita asal Bagansiapi-api, Riau ini bersemangat.

Lanjut Yen Yen, sebelum menjadi orang yang sukses, dirinya mengaku sempat tinggal rumah kost, satu kamar (kecil). “Dulu saya berpikir ketika jalan-jalan di Jakarta, apakah saya menjadi sampah di Jakarta atau saya taklukin Jakarta. Hanya itu saja cita-cita saya ketika menginjak Jakarta. Setelah itu, saya mencoba usaha kecil-kecilan dengan dua karyawan, yaitu saya dengan satu orang lain. Awalnya saya punya modal hanya 25 juta, itupun minjam dari pacar saya yang kini menjadi suami saya,” tutur Yen Yen.

Dengan modal pinjaman itulah, kemudian Yen Yen mengelolanya dengan baik agar memperoleh hasil yang maksimal. “Nah, kita semua tahu ketika tahun 1997, Indonesia dilanda krisis ekonomi. Saya pun pada saat itu mengalami krisis tersebut. Hingga dua tahun sempat drop, tetapi pada tahun 2000 saya dapat bangkit dan melewatinya. Makanya PT saya itu belakangnya namanya 2001. Kenapa? Karena pada tahun 2000 itu kita bangkit dan kembali, sedangkan tahun 2001 itu itu take offnya kita. Jadi ibarat pesawat, itu tinggal landasnya (take offnya). Nah setelah tahun 2001, terjadi lagi krisis tahun 2008, dimana saya waktu itu jauh lebih siap dan tidak merasakan hal tersebut. Termasuk saat ini, di tengah pandemi covid-19, mungkin banyak orang berpikir, ini adalah krisis berat semuanya. Dan saya lihat banyak sekali keluhan-keluhan terkait kondisi saat ini. Tetapi sebagai anak-anak Tuhan, kita percaya, bahwa ada Tuhan yang memegang kita. Kenapa justru kita tidak bisa merasakan? Karena yang lebih besar adalah rasa kuatir kita daripada Tuhan. Saya tidak pernah berbicara kepada teman-teman mengatasnamakan Tuhan atau agama. Cukup saya yakin bahwa jika sampai hari ini saya bisa berjalan, bisa berdiri semua karena anugerah Tuhan,” tutur Pemrakarsa PT Suprajaya Duaribu Satu yang bergerak di bidang bahan bangunan.

Baca Juga: Talkshow “Young On The Top” : Wow! Dua Pilot Cantik Berpenghasilan 5 Motor Per Bulan

Menurut Yen Yen, kalau kita melihat kondisi saat ini di tengah pandemi Corona, semuanya adalah sebuah kemungkinan-kemungkinan. “Tetapi melalui keyakinan kita atau kita yakin dengan sungguh-sungguh maka akan menjadi satu kepastian. Kita harus yakin bahwa saat ini, mungkin semua orang pernah melalui atau pas kita mau lewat ada rel kereta. Kalau pas kereta mau lewat, pastinya palangnya turun, tentu saja kita mesti berhenti menunggu sampai palang itu naik atau terbuka lagi, dan kita bisa melanjutkan perjalanan. Begitu pula kondisi saat ini kita harus yakin bahwa kita pasti bisa melewatinya,” papar Yen Yen memotivasi jemaat yang hadir.

James Gwee (Motivator): Skill, Network & Pengalaman Sesuai Bidangnya Itu Sangat Penting

Sementara itu, Pria berdarah Singapura, James Gwee yang telah menjadi pembicara sekaligus motivator selama 26 tahun ini mengungkapkan bahwa, setiap orang itu memiliki skill maupun pengalaman di bidang masing-masing. “Kalau kita berbicara ini seolah-olah gampang. Kita sudah lakukan all the journey, network, people skill sudah ada. Mungkin kita berpikir, bahwa apa yang kita lakukan itu enak. Betul enak, asalkan kita sudah melakukan selama 20 tahunan. Nanti setelah 20 tahunan, kita semua akan bilang enak. So, semua ada siklusnya,” tutur James Gwee sembari menambahkan bahwa dirinya pernah hidup susah, lantaran tidak bisa bahasa Indonesia.

Nasihat bagi anak muda saat ini, kata James, memperolehnya dari Pilot muda Marsya dan Vinesya. “Mereka berdua ini tidak memiliki cita-cita sejak kecil menjadi Pilot. Tidak ada goal settingnya, tidak ada dream-nya. Tetapi mereka melakukan apa yang memungkinkan dan berani melangkah, mengambil resiko (take a risk) dan berani mencoba. Hal yang paling penting adalah ketika berada di tengah lingkungan yang mendukung, kemudian melakukan konsultasi mengambil keputusan yang tepat untuk menjadi pilot. Semua dibutuhkan support system yang bisa memberikan solusi untuk mengambil keputusan yang tepat,” tandas James Gwee. (Stevano Margianto).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *